Selasa, 19 November 2013

Bab 4: Funny Twist of Destiny

Di bab ini, Al menjelaskan betapa uniknya situasi yang dialaminya, yaitu memperoleh bantuan tak terduga dari kedatangan Miguel. Terlebih setelah Miguel menjelaskan alasan membantu Al mengembangkan bisnis hostelnya adalah konsep 'bank budi' (banco de favores) yang dipopulerkan Paulo Coelho di dalam novel The Zahir.

Konsep 'bank budi' adalah dengan kita berbuat baik kepada seseorang, kita telah menabung sebuah perbuatan baik di 'bank budi', sehingga pada suatu saat pertolongan akan kembali kepada kita, meskipun tidak harus melalui orang yang kita pernah tolong sebelumnya.

sumber: www.stockercary.com

Rabu, 20 Maret 2013

Bab 3: Miguel

Karakter Miguel yang asal Spanyol sebenarnya terinspirasi oleh dua orang. Keduanya teman saya, dan keduanya berasal dari Spanyol.

Yang pertama bernama Miguel Fuentes (makanya nama karakter di novel adalah Miguel), dan yang kedua adalah Jose Manuel Martinez Carrion (nama keluarganya saya pakai untuk menjadi nama keluarga karakter di novel: Miguel Carrion).

Jose adalah yang kedua dari kiri, Miguel adalah yang paling kanan
Beberapa karakteristik mereka saya pakai untuk menggambarkan karakter Miguel di novel. Miguel (in real life) orangnya tinggi, charming, dan agak pendiam. Sedangkan Jose suka bercanda dan sedikit lebih terbuka. Meski demikian, keduanya tidak terlalu fasih berbahasa Inggris sehingga selalu berbicara campur-campur antara bahasa Inggris dan Spanyol.

(bersambung...)

Bab 2: Al dan Bebi

Sosok Al, sebagai karakter utama, tentu saja terinspirasi dari sosok saya sendiri (hehehe). Jadi jangan heran jika Anda mengenal saya secara pribadi dan ketika membaca Dream Together tiba-tiba merasa, 'Al ini Mahir banget!'

Can't imagine a better character as Al but myself
Sedangkan karakter Bebi saya ciptakan karena pengen bikin cerita dimana tokoh utamanya mempunyai sidekick sesosok pria yang ke-wanita-wanita-an. Yah, seperti karakter Emon di film Catatan Si Boy deh. :D

Didi Petet sebagai Emon
'...dalam cerita hidupku, Bebi adalah peran pembantu dengan kadar urgensi yang nyaris mendekati pemeran utama.' - Al tentang Bebi.

(bersambung...)

Bab 1: Paradise Now

'Setiap kali seseorang mendengar bahwa kalau aku menjalankan bisnis hostel, mereka pasti mengerutkan kening...' - Al.

Semua bermula ketika saya memperoleh ide cerita ini di Berlin. Saat itu saya menginap di Hostel bernama Helter Skelter. Ya, nama hostel tersebut mungkin diambil dari judul lagu The Beatles. Pemilik hostel tersebut pasti penggemar Beatles.

Ruangan social room hostel Helter Skelter di Berlin
Lalu, sekembalinya saya ke Swiss, saya pun mulai menyusun kerangka cerita untuk Dream Together. Tentang pria berusia pertengahan dua puluhan bernama Al yang menjalankan bisnis hostel. Seting cerita mengambil tempat di kota kelahiran saya, di Makassar. Maka, hostel milik Al bernama 'Makassar Paradise'. Dari kutipan-kutipan lagu yang bertebaran di sana-sini, bisa ditebak kata 'paradise' di nama hostel terinspirasi dari judul lagu milik band Coldplay.

Suasana sore hari di Pantai Losari (diambil dari 2dheart.wordpress.com)

Lokasi hostel Makassar Paradise pun diceritakan sangat strategis, tepat di seberang jalan dari ikon kota Makassar, Pantai Losari.

(bersambung...)

Novel 'Rhapsody' dan Makassar Paradise


Ada yang bilang bahwa sebuah perjalanan, sejauh apapun itu, akan selalu membuatmu merindukan rumah. Itulah yang terjadi kepada saya selama hampir dua tahun terakhir.

Saya pertama kali sampai ke Swiss pada September 2011. Tujuan saya sebenarnya adalah untuk kuliah, tetapi daratan Eropa memang terlalu menggoda untuk tidak dijelajahi. Maka, saya pun melakukan sedikit perjalanan ke beberapa negara Eropa di sekitar Swiss. Ternyata kerinduan pada rumah dan kampung halaman selalu menyertai setiap langkah kaki saya di negara mana pun saya berada.

Akhirnya timbullah keinginan untuk menulis sebuah buku tentang perjalanan, sekaligus tentang kampung halaman. Pada mulanya, saya menginginkan buku ini menjadi sebuah catatan perjalanan. Namun di tengah-tengah, saya merasa apa yang telah saya tulis terlalu membosankan. Sebagai penulis yang sudah menerbitkan sebuah novel, saya memang ingin perjalanan-perjalanan saya dibumbui cerita-cerita fiksi. Akhirnya saya pun banting setir untuk menulis cerita fiksi dalam bentuk novel. 

Cerita ini tentang pemuda bernama Al yang menjalankan usaha hostel sederhana di kota Makassar. Usaha yang sempat mandek itu akhirnya berjalan lancar dibantu oleh seorang asing bernama Miguel. Al dan Miguel pun mengalami kejadian demi kejadian yang mengubah hidup mereka.

Penulisan novel Rhapsody (judul awalnya Dream Together) memakan waktu sekitar empat bulan, terhitung dari Februari 2012 sampai Juni 2012. Setelah menunggu sekitar setahun lebih bulan, GagasMedia akhirnya menerbitkan novel ini dengan beberapa catatan dan perubahan.

Meski demikian, saya mempertahankan beberapa kejadian nyata yang benar-benar saya alami di dalam perjalanan untuk dipadukan dengan cerita rekaan. Pada akhirnya, hasil akhir cerita ini adalah perpaduan sekitar 60% karangan dan 40% kejadian nyata.

cover by Aneesy (GagasMedia)

Change of Content

Halo semuanya,

Blog ini sudah hampir setahun saya anggurin, hahaha. Punya banyak blog memang berisiko membuat salah satu akan ditinggalkan. But now, here I am again!

Ada sedikit pengumuman berkaitan dengan isi blog ini. Jika sebelumnya berisikan perjalanan-perjalanan yang saya lakukan, kali ini, mulai Maret 2013, blog ini akan segera beralih fungsi.

Blog ini akan berubah menjadi semacam promotional website untuk mendukung novel saya yang (rencananya) akan segera terbit bulan Maret atau April 2013. Judulnya 'Dream Together' terbitan GagasMedia.

Novel ini sendiri merupakan gabungan antara pengalaman nyata saya dengan beberapa kisah fiksi. Jadi, tetap saja blog ini akan berisikan catatan-catatan perjalanan dan foto-foto saya dalam satu-dua tahun terakhir.

Oh ya, nama blog ini juga akan berubah menjadi www.mphostel.com . Jika nanti kalian membaca novel saya, maka pasti akan tahu maksud nama website tersebut.

Novelis Orhan Pamuk dengan Museum of Innocence-nya. Photo by Guardian (UK)
Penulisan blog ini nantinya akan terinspirasi dari novel 'The Museum of Innocence' karya novelis Turki, Orhan Pamuk yang dijelaskan secara bab per bab oleh sebuah bangunan di Istanbul yang bernama sama, Masumiyet Muzesi alias Museum of Innocence. Di blog ini, saya akan menjelaskan inspirasi cerita di novel Dream Together lengkap dengan foto-fotonya.

Enjoy!

MP

Senin, 02 Juli 2012

Euro 2012 Trip: Warsawa

(Go west) Life is peaceful there
(Go west) In the open air
(Go west) Where the skies are blue
(Go west) This is what we're gonna do

(Go West by Pet Shop Boys)

Saya sengaja memulai postingan dengan mengutip lagu klasik bernada ceria dari Pet Shop Boys di atas. Postingan ini adalah tentang Warsawa, ibukota Polandia berpopulasi 1,8 juta jiwa yang menjadi salah satu panggung utama turnamen sepak bola Euro 2012. Di kota ini, acara pembukaan pesta sepak bola Eropa empat tahunan tersebut dilaksanakan. Mendadak, jutaan pasang mata tertuju ke kota yang tadinya hanya memiliki klub sepak bola medioker bernama Legia Warsaw ini.

Hubungannya dengan lagu tersebut? Sepanjang perjalanan Poznan-Warsawa, saya sering berpapasan dengan para pendukung tim sepak bola Polandia yang menyanyikan yel-yel 'Polska', atau nama lain negara Polandia. Nah, cara mereka menyanyikan yel-yel itu adalah dengan mengambil bait awal dari lagu 'Go West' tersebut dan menggantinya dengan 'POLSKA'!

Saya sendiri awalnya tidak berencana mengunjungi Warsawa, namun setelah beranggapan bahwa mengunjungi suatu negara tidak afdal jika tidak mengunjungi ibukotanya, maka akhirnya saya melanjutkan perjalanan dari Poznan ke Warsawa. Saya pun meninggalkan Poznan pada 17 Juni 2012 dan menumpang kereta antar kota ke Warsawa yang menempuh perjalanan sekitar 4 jam. 

Perjalanan ke Warsawa sama sekali tidak bisa dibilang menyenangkan. Kereta yang saya tumpangi tidaklah lebih baik dari kereta antar kota di Jawa, yang menghubungkan antara Jogja dan Bandung, misalnya. Awalnya, kereta tersebut telat satu setengah jam dari jadwal, sehingga membuat banyak penumpang terlantar. Lalu, kereta ini termasuk jenis kereta ekonomi sehingga tidak dilengkapi dengan sistem pendingin dan sering berhenti untuk menunggu kereta lain lewat. Alhasil, saya sering berkeringat selama perjalanan di atas kereta. 

Sesampainya saya di Warsawa, saya dibuat kagum karena Warsawa terlihat seperti versi lain kota Berlin. Serupa tapi tak sama. Warsawa dan Berlin sama-sama dikenal sebagai 'kota Phoenix', mengacu pada burung Phoenix di cerita Yunani kuno. Ceritanya, burung Phoenix, meskipun terbakar habis, selalu mampu lahir kembali dalam suatu bentuk baru. Begitu halnya dengan Warsawa dan Berlin. Meskipun kedua kota ini sama-sama pernah luluh lantak akibat perang dunia, namun mereka selalu berhasil dibangun kembali sehingga sekarang menjadi kota yang modern dan nyaman untuk ditinggali.

Perbedaannya, warga Warsawa jarang yang bisa bahasa Inggris. Saya kadang mencoba bahasa Jerman, namun ternyata kebanyakan orang hanya bisa berbahasa Polska. Anyways, setelah keluyuran beberapa jam mencari hostel tempat menginap, akhirnya saya berhasil menemukannya. Setelah menyimpan barang bawaan, saya pun bergegas datang ke fan zone, atau area yang disulap menjadi tempat nonton bareng pertandingan Euro 2012. Pada malam hari itu, warga Polandia berduyun-duyun datang ke fan zone untuk menyaksikan salah satu pertandingan terpenting bagi tim sepak bola mereka: Polandia melawan Republik Ceko. Jika Polandia menang, maka tim mereka akan berhasil masuk ke 8 besar.


Fan zone Warsawa pada petang hari itu pun menjadi salah satu crowd dengan jumlah terdahsyat yang pernah saya alami. Mungkin ada sekitar 200-ribu sampai 300-ribu orang yang memadati fan zone Warsawa demi mendukung timnas mereka bertanding. Berada di tengah kerumunan massa ini benar-benar merupakan suatu pengalaman hidup yang tak terlupakan bagi saya.

Sayangnya, perjuangan tim nasional Polandia pada hari itu tidak berakhir bahagia. Mereka harus menerima kenyataan takluk dari Ceko dengan skor 0-1. Nyanyian 'Polska' dengan nada lagu 'Go West' pun perlahan-lahan mulai menghilang. Digantikan dengan wajah kekecewaan para pendukung yang meninggalkan fan zone.

MP