Tampilkan postingan dengan label City Adventure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label City Adventure. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juli 2012

Euro 2012 Trip: Warsawa

(Go west) Life is peaceful there
(Go west) In the open air
(Go west) Where the skies are blue
(Go west) This is what we're gonna do

(Go West by Pet Shop Boys)

Saya sengaja memulai postingan dengan mengutip lagu klasik bernada ceria dari Pet Shop Boys di atas. Postingan ini adalah tentang Warsawa, ibukota Polandia berpopulasi 1,8 juta jiwa yang menjadi salah satu panggung utama turnamen sepak bola Euro 2012. Di kota ini, acara pembukaan pesta sepak bola Eropa empat tahunan tersebut dilaksanakan. Mendadak, jutaan pasang mata tertuju ke kota yang tadinya hanya memiliki klub sepak bola medioker bernama Legia Warsaw ini.

Hubungannya dengan lagu tersebut? Sepanjang perjalanan Poznan-Warsawa, saya sering berpapasan dengan para pendukung tim sepak bola Polandia yang menyanyikan yel-yel 'Polska', atau nama lain negara Polandia. Nah, cara mereka menyanyikan yel-yel itu adalah dengan mengambil bait awal dari lagu 'Go West' tersebut dan menggantinya dengan 'POLSKA'!

Saya sendiri awalnya tidak berencana mengunjungi Warsawa, namun setelah beranggapan bahwa mengunjungi suatu negara tidak afdal jika tidak mengunjungi ibukotanya, maka akhirnya saya melanjutkan perjalanan dari Poznan ke Warsawa. Saya pun meninggalkan Poznan pada 17 Juni 2012 dan menumpang kereta antar kota ke Warsawa yang menempuh perjalanan sekitar 4 jam. 

Perjalanan ke Warsawa sama sekali tidak bisa dibilang menyenangkan. Kereta yang saya tumpangi tidaklah lebih baik dari kereta antar kota di Jawa, yang menghubungkan antara Jogja dan Bandung, misalnya. Awalnya, kereta tersebut telat satu setengah jam dari jadwal, sehingga membuat banyak penumpang terlantar. Lalu, kereta ini termasuk jenis kereta ekonomi sehingga tidak dilengkapi dengan sistem pendingin dan sering berhenti untuk menunggu kereta lain lewat. Alhasil, saya sering berkeringat selama perjalanan di atas kereta. 

Sesampainya saya di Warsawa, saya dibuat kagum karena Warsawa terlihat seperti versi lain kota Berlin. Serupa tapi tak sama. Warsawa dan Berlin sama-sama dikenal sebagai 'kota Phoenix', mengacu pada burung Phoenix di cerita Yunani kuno. Ceritanya, burung Phoenix, meskipun terbakar habis, selalu mampu lahir kembali dalam suatu bentuk baru. Begitu halnya dengan Warsawa dan Berlin. Meskipun kedua kota ini sama-sama pernah luluh lantak akibat perang dunia, namun mereka selalu berhasil dibangun kembali sehingga sekarang menjadi kota yang modern dan nyaman untuk ditinggali.

Perbedaannya, warga Warsawa jarang yang bisa bahasa Inggris. Saya kadang mencoba bahasa Jerman, namun ternyata kebanyakan orang hanya bisa berbahasa Polska. Anyways, setelah keluyuran beberapa jam mencari hostel tempat menginap, akhirnya saya berhasil menemukannya. Setelah menyimpan barang bawaan, saya pun bergegas datang ke fan zone, atau area yang disulap menjadi tempat nonton bareng pertandingan Euro 2012. Pada malam hari itu, warga Polandia berduyun-duyun datang ke fan zone untuk menyaksikan salah satu pertandingan terpenting bagi tim sepak bola mereka: Polandia melawan Republik Ceko. Jika Polandia menang, maka tim mereka akan berhasil masuk ke 8 besar.


Fan zone Warsawa pada petang hari itu pun menjadi salah satu crowd dengan jumlah terdahsyat yang pernah saya alami. Mungkin ada sekitar 200-ribu sampai 300-ribu orang yang memadati fan zone Warsawa demi mendukung timnas mereka bertanding. Berada di tengah kerumunan massa ini benar-benar merupakan suatu pengalaman hidup yang tak terlupakan bagi saya.

Sayangnya, perjuangan tim nasional Polandia pada hari itu tidak berakhir bahagia. Mereka harus menerima kenyataan takluk dari Ceko dengan skor 0-1. Nyanyian 'Polska' dengan nada lagu 'Go West' pun perlahan-lahan mulai menghilang. Digantikan dengan wajah kekecewaan para pendukung yang meninggalkan fan zone.

MP

Euro 2012 Trip: Poznan (2)

Okay, inilah yang ditunggu-tunggu dari perjalanan saya ke Polandia: nonton langsung match Euro 2012 di stadion!

Match yang saya tuju adalah pertandingan antara Italia melawan Kroasia, 15 Juni 2012. Poznan sendiri sudah diramaikan oleh pendukung-pendukung Kroasia dan Italia sejak 14 Juni. Masalah muncul bagi saya karena saya datang ke kota Poznan dengan modal nekat: belum punya tiket!

Rusmin sendiri sudah berhasil membeli tiket dari sebuah website beli tiket online. Tiket yang didapatkannya adalah tempat duduk kategori 2 yang harga aslinya 30 Euro, diperolehnya dengan harga 60 Euro. Saya dan Sendy akhirnya nekat saja datang ke stadion Miejski Poznan satu jam sebelum pertandingan dimulai, berharap bisa membeli tiket dari calo sambil berdoa supaya harga yang dipatok oleh para calo nggak mahal-mahal amat.

Kami pun berangkat ke stadion Miejski dengan menggunakan tram. Seluruh transportasi umum penuh penumpang yang hanya berpergian dengan satu tujuan: datang ke stadion. Mereka tidak ingin ketinggalan menjadi saksi sejarah turnamen sepak bola akbar yang terjadi hanya empat tahun sekali di rumah mereka ini. Hari yang sedikit basah karena hujan itu pun diwarnai dengan pemandangan orang-orang berjalan kaki maupun berkendaraan dalam aneka warna di seluruh sudut kota Poznan. Warna-warna yang dominan dikenakan oleh para 'jemaat bola' adalah biru, yaitu warna seragam timnas Italia dan merah-putih, yang menjadi warna khas Kroasia.

Sesampainya kami di depan Stadion Miejski, suasana sudah seperti medan perang. Gerombolan polisi memasang barikade dan menutup jalan untuk berjaga-jaga apabila terjadi kerusuhan. Mobil polisi diparkir di berbagai sudut jalan dan beberapa polisi tampak siaga di atas beberapa ekor kuda. Di langit di atas sana, sebuah helikopter terbang mondar-mandir untuk mengawasi keadaan di sekitar stadion. Meskipun pengamanannya ketat, syukurlah sampai akhir pertandingan tidak terjadi kerusuhan berarti.

Saya dan Sendy pun memasang perhatian kali-kali aja ada calo yang menawarkan tiketnya pada kami. Ternyata benar. Belasan calo langsung menyerbu kami menawarkan tiket. Kami pun siap-siap untuk menawar harga yang diberikan, namun alangkah kagetnya kami ketika mereka berkata bahwa tiket yang ditawarkan 'hanya' 100 Euro. Padahal, tiket tersebut merupakan kategori 2, yang harga aslinya di website UEFA sebesar 120 Euro! Mungkin para calo sudah terdesak untuk menjual tiket mereka karena kick-off pertandingan sebentar lagi dimulai.


Saya dan Sendy pun membeli tiket yang meskipun sedikit mahal, namun sangat menguntungkan secara finansial itu. Setelah sedikit dibuat was-was karena takut kami ditipu dengan tiket palsu, semuanya berjalan lancar setelah kami akhirnya berhasil masuk ke stadion dan melewati security check. Pertandingan Italia melawan Kroasia yang berakhir imbang 1-1 itu pun kami nikmati dengan tenang.

Setelah pertandingan selesai, kami tidak ingin melewatkan kesempatan untuk berfoto dengan fans-fans Kroasia dan Italia di depan stadion. Sendy sendiri merupakan aktivis Viking, alias klub pendukung Persib Bandung. Dia tidak lupa membawa atribut persib berupa syal dan bendera yang kami bentangkan untuk menunjukkan eksistensi kami, para pecinta sepak bola Indonesia di luar negeri. Oh ya, ditambah lagi, saya, Rusmin dan Sendy, semuanya kompak datang ke stadion mengenakan kaos merah kebesaran tim nasional Indonesia! Suatu bukti bahwa kecintaan kami terhadap sepak bola tidak mengenal batas! Sekaligus cerminan harapan yang tidak pernah mati, agar sepak bola Indonesia bisa berprestasi suatu hari nanti. 


MP

Kamis, 21 Juni 2012

Euro 2012 Trip: Poznan (1)

Poznan, 14 Juni 2012.

Kereta api Warsawa Express yang membawa saya dari Berlin Hauptbahnhof berhenti di Poznan Glowny. This is it! Saya sudah sampai di Poznan. Kereta akan melanjutkan perjalanan ke Warsawa, tapi pemberhentian saya adalah kota di barat Polandia yang bernama unik ini. 


Rintik demi rintik gerimis menyambut saya di Poznan Glowny, atau Poznan Main Station. Suasana stasiun lama yang kumuh memenuhi pandangan saya. Di sana-sini, terlihat banyak orang berkeliaran memakai pakaian serba hijau. Mereka adalah para volunteer yang bekerja untuk membantu para wisatawan yang bertujuan untuk menonton pertandingan sepak bola Euro 2012.

Setelah menunggu setengah jam, Rusmin akhirnya datang menjemput saya, bersama seorang pria berwajah Indonesia seumuran kami. Kami berkenalan, nama pria muda itu Sendy. Dia asli Bandung. Viking abis, alias pendukung setia Persib Bandung. Sendy telah tinggal di Poznan selama tiga tahun. Dia bekerja sebagai koki di Warung Bali, restoran bergaya Indonesia yang terletak di Old Town Poznan.


Kami pun berjalan kaki menuju apartemen Sendy, kenalan baru yang bersedia menampung kami selama stay di Poznan. Hujan berhenti dan matahari mulai bersinar terang. Di sepanjang perjalanan, saya mengamati bangunan demi bangunan yang menjadi saksi sejarah serta masa pembangunan kota ini. Bangunan tua tetap menghiasi, namun mereka seolah berjuang memperlihatkan eksistensi mereka di tengah-tengah gencar-gencarnya pembangunan gedung baru.

Bisa dimengerti, terpilihnya Poznan sebagai salah satu tuan rumah pertandingan Euro 2012 pastinya akan mengundang ribuan, mungkin jutaan wisatawan asing yang berkunjung ke kota tersebut. Selain itu,sepak bola di kota ini memang sedang menggeliat. Poznan adalah markas juara liga sepak bola Polandia 2012, yaitu Lech Poznan, tim sepak bola yang disponsori oleh produsen bir khas Polandia. Makanya, terlihat jelas betapa Poznan ingin sebaik mungkin terlihat sebagai kota yang ramah dan berkembang dengan pembangunan gedung-gedung baru di sana-sini serta keberadaan kafe-kafe pinggir jalan yang terlihat dadakan.


Begitu keluar dari pintu stasiun utama yang tadinya terlihat kuno dan kumuh, sesuatu menarik perhatian saya. Di seberang stasiun, terdapat sebuah bangunan yang belum setengahnya selesai dibangun. Ketika bertanya kepada Sendy, dia menjelaskan bahwa itu adalah pembangunan stasiun utama kota Poznan yang belum. tadinya pembangunan stadion baru tersebut diproyeksikan akan selesai sebelum pelaksanaan Euro 2012. Apa daya, akibat satu dan lain hal, sampai Juni 2012 para wisatawan hanya bisa melihat kerangka dan bahan-bahan bangunan yang masih berantakan.

Saya tersenyum sendiri. Jadi teringat tahun lalu ketika Palembang mengalami hal yang sama demi mengejar deadline pelaksanaan SEA Games. Ada sedikit rasa lega karena ternyata 'penyakit' seperti ini bukan hanya menjadi kebiasaan buruk Indonesia.

(bersambung...)

Euro 2012 Trip: Berlin (1)

Pada 13 Juni 2012, pesawat Easyjet membawa saya dari Jenewa ke Berlin. Ini adalah kali kedua say menginjakkan kaki di Berlin. Saya menghabiskan satu hari di sana, hanya untuk transit sebelum menumpang kereta ke Poznan keesokan harinya. Sekalian, saya ingin merasakan suasana menonton sepak bola di pusat keramaian kota Berlin, yaitu Brandenburger Tor.

Brandenburger Tor adalah memorial berbentuk gerbang yang menjadi ikon kota Berlin. Lokasi yang berseberangan dengan gedung parlemen Jerman itu disulap menjadi fan zone Euro 2012, yaitu pusat keramaian masyarakat untuk menonton pertandingan sepak bola antara Jerman melawan Belanda yang diadakan pada 13 Juni malam tersebut.


Begitu tiba di lokasi, saya terkejut dan takjub. Mungkin ada lebih dari dua ratus ribu orang yang memadati jalan-jalan Berlin untuk berkumpul di lokasi fan zone Berlin. Panitia fan zone sendiri menyediakan beberapa layar raksasa di jalan-jalan utama sepanjang lokasi tersebut. Petugas polisi berjaga di mana-mana, dan pemeriksaan harus dilakukan sebelum memasuki wilayah fan zone

Selama pertandingan berlangsung, suasana benar-benar hidup, serasa Berlin sedang mengadakan karnaval dengan tema sepak bola. Keramaian massa tersebut tidak lupa menyanyikan chant atau lagu perjuangan tim sepak bola Jerman. Sorak-sorai 'auf geht's, schiess ein tor' atau yang artinya 'maju terus, cetak gol!' bergema di mana-mana. Pria-wanita, tua-muda, semuanya berkumpul untuk mendukung para pahlawan sepak bola mereka menghadai Belanda. Satu demi satu nama pemain Jerman diteriakkan oleh para suporter yang terbawa situasi sepanjang pertandingan berlangsung.


Pertandingan petang hari itu akhirnya dimenangkan oleh Jerman dengan skor 2-1. Suasana pun menjadi meriah. Sekitar wilayah fan zone berubah menjadi parade kemenangan warga Jerman di Berlin. Ratusan ribu orang menari-nari gembira di jalanan, sambil terus-terusan meneriakkan yel-yel dan nama-nama para pahlawan sepak bola mereka. Mobil-mobil yang lalu lalang membunyikan klakson seraya mengibar-ngibarkan bendera Jerman. Atmosfer yang luar biasa!

Saya pun jadi berpikir, jika kemeriahan seperti ini sudah terasa di Berlin, yang jaraknya masih kurang lebih 200 kilometer dari Polandia, maka bagaimana dengan suasan di Polandia sendiri, ya?

(bersambung...)

Rabu, 21 Desember 2011

Solothurn: Garuda Overseas

Postingan ini telat sebulan, tapi tetap saja, terlalu menarik untuk dilewatkan.

Pada final SEA Games yang berlangsung pada tanggal 21 November 2011, final cabang olahraga yang paling bergengsi, yaitu sepakbola, mempertemukan Indonesia dan Malaysia. Tidak mau kalah dengan jutaan warga Indonesia yang mendukung tim kesayangan kita, saya dan beberapa teman yang sedang berdomisili di luar negeri membuat suatu gerakan di Twitter yang pada akhirnya dikenal dengan #GarudaOverseas

Gerakan tersebut diprakarsai oleh teman saya, Rusmin, yang sekarang berada di Trieste, Italia. Aturannya, kami harus mem-posting foto kami dengan bendera atau atribut timnas Indonesia di depan sebuah landmark ternama di kota manapun di luar negeri.

Nah, saya sendiri, tepat pada hari itu, sedang berada di kota Solothurn. Di kota kecil yang letaknya bisa dicapai sekitar setengah jam naik kereta ini, saya bersama dua teman saya yang lain asal Indonesia berkeliling mencari spot yang bagus untuk berfoto. Hasilnya bisa dilihat di foto-foto di bawah ini.

Di depan Katedral Solothurn

Oh ya, ada suatu hal yang unik. Di saat kami sedang mencari lokasi untuk berfoto, tiba-tiba kami melihat jejeran bendera merah-putih terpasang di sepanjang jembatan yang melintasi Solothurn River. Langsung saja, kami meminta bantuan kepada warga setempat untuk mengambil foto kami di lokasi unik tersebut. Hasilnya, bisa terlihat seolah-olah warga Solothurn ikut mendukung perjuangan tim sepakbola Indonesia dengan memasang bendera merah-putih di sepanjang kota mereka.

Seisi kota Solothurn mendukung Indonesia!

Padahal, merah-putih adalah bendera kanton Solothurn yang kebetulan juga berwarna merah dan putih. What a sweet coincidence! :D

MP

Kamis, 24 November 2011

Basel

Selama dua bulan lebih tinggal di Swiss, hampir semua kota besar sudah saya kunjungi. Kecuali satu kota besar: Basel. Sejauh ini memang belum ada urusan yang mengharuskan saya ke sana. Sampai pada akhirnya, weekend lalu, saya diundang untuk menghadiri suatu acara ulang tahun yang juga merupakan ajang silaturahmi masyarakat Indonesia se-Swiss.

belum sempat ngambil foto, maka foto ini saya ambil di http://www.mascotte.ch/1962/

Basel, yang sekarang terkenal dengan tim sepakbolanya yang sukses mempermalukan Manchester United di turnamen Liga Champions, merupakan kota yang terbilang metropolitan. Selain Zurich, kota ini adalah salah satu kota terluas dan terpadat. Mungkin karena mengingat statusnya sebagai kota industri.

Sayangnya, karena cuma sehari, belum banyak yang bisa saya ceritakan dari kota ini. Semoga suatu hari saya bisa kembali ke kota ini untuk membawalebih banyak cerita. Namun, yang pasti, setelah mengunjungi Basel, seolah saya telah menemukan missing link yang membuat saya sudah menjelajahi seluruh kota penting di Swiss! :)

MP

Zurich

Setelah lebih sebulan tidak meng-update blog ini, tanpa terasa musim dingin sudah berada di depan pintu. Angin dingin yang menusuk tulang mulai merasuk lewat sela-sela jendela. Saya teringat untuk segera menyalakan penghangat ruangan. Namun, dinginnya udara luar tidak menghalangi saya untuk berkunjung ke kota terbesar dan terpadat di Swiss, yaitu Zurich.

Ya, seperti sudah sering kita bahas, Zurich selalu membuat orang-orang kecele. Banyak yang mengira bahwa inilah ibukota Swiss, padahal bukan. Meski demikian, kota ini merupakan kota dengan populasi terbanyak, sekitar 380-ribu jiwa (ini pun tidak ada apa-apanya dibanding populasi Jakarta, hahaha).

Saat pertama sampai di stasiun kereta Zurich pun, suasana kota metropolitan sudah terasa. Pelataran yang luas dan hiruk-pikuknya orang yang berlalu-lalang menegaskan semua itu. Begitu saya melangkahkan kaki ke luar, saya disambut dengan padatnya lalu-lintas, tidak peduli dengan udara di penghujung musim gugur yang sudah nyaris beku.

Saya memang cuma menghabiskan satu sore menjelang malam di kota itu. Kesan yang saya dapatkan pun sangat berbeda dengan Bern. Kota Zurich seakan menegaskan diri sebagai pemimpin di daerah Swiss yang berbahasa Jerman: selalu terlihat sibuk dengan jutaan hal berbeda terjadi setiap hari. Roda perekonomian yang terus berputar karena banyaknya pusat perbelanjaan, disokong dengan sistem perbankan paling aman di dunia. Otomatis, Zurich menawarkan sejuta kesempatan kerja. Ya, saya melihat banyak sekali wajah Asia maupun India selama berjalan-jalan di kota ini. Hal tersebut menandakan bahwa Zurich membuka kesempatan bagi siapa saja untuk bersaing mencari pekerjaan di sana.

Namun, yang saya salut, di tengah segala kesibukan dan hiruk-pikuknya, Zurich tidak lupa menyimpan pesonanya. Hal tersebut bisa dilihat dari foto pemandangan Danau Zurich yang sekaligus menjadi penutup postingan saya ini:


Senin, 17 Oktober 2011

The Chocolate Factory (without the Oompa Loompas)

Saya ingat waktu saya masih kecil, setelah membaca buku karangan Roald Dahl, Willy Wonka and the Chocolate Factory, saya sampai kebawa mimpi makan ratusan permen cokelat. Lalu, sekitar enam tahun lalu, dirilislah film Charlie and the Chocolate Factory buatan Tim Burton yang dibintangi Johnny Depp sebagai Willy Wonka si pemilik pabrik cokelat. Sampai pada saat itu, pengalaman di sebuah pabrik cokelat hanyalah sebatas angan-angan belaka. Belum pernah terpikirkan dalam pikiran saya bahwa suatu hari nanti akan mengunjungi sebuah pabrik cokelat.

Namun, saat itu akhirnya datang juga. Pada hari Sabtu, 15 Oktober 2011, saya dan beberapa orang teman berkunjung ke sebuah pabrik cokelat di Broc. Di sini kami melihat langsung proses pembuatan cokelat serta sejarah singkat industri cokelat di Swiss, yang pada akhirnya menguasai dunia.

Cerita singkatnya, pada abad ke-19, seorang pengusaha bernama Francois-Louis Cailler mengusulkan sesuatu yang berbeda dari cokelat yang beredar di pasaran. Cailler mengemas cokelat menjadi lebih praktis, yaitu cokelat batangan. Ide ini menarik perhatian dua orang pengusaha lain, yang pada akhirnya menjadi trio pionir industri cokelat di Swiss dan bahkan Eropa. Kedua pengusaha itu adalah Charles Kohler, pengusaha pertama yang memadukan biji hazelnut di dalam cokelat, dan Henri Nestle. Nama terakhir, tentu saja kita kenal sebagai pengusaha yang mengembangkan susu produksi asli Swiss. Di saat inilah perpaduan cokelat-susu (milk-chocolate) pertama kali dilakukan dan menjadi makanan yang sangat digemari di seluruh dunia sampai sekarang.

Di zaman sekarang, ketiga nama pengusaha tersebut telah menjadi brand tersendiri. Cailler dan Kohler tetap menjadi market-leader produsen cokelat di Swiss. Nama mereka juga tidak terpisahkan dari berbagai kemasan cokelat yang beredar di toko-toko. Sedangkan Nestle? Siapa sih yang nggak pernah dengar nama perusahaan raksasa dunia ini?

Oke, sudah cukup ya ceritanya... Beberapa foto dari dalam pabrik cokelat tersebut bisa dilihat di bawah ini:

bahan-bahan baku berupa cokelat dan hazelnut (kacang mede) yang belum diproses

proses dilakukan oleh mesin pembuat cokelat tersendiri

you can see the chocolates there, fresh and new

buat yang berminat, ada kelas pembuatan adonan cokelat nih

berbagai bentuk cokelat yang lucu-lucu

okay, saya tidak perlu makanan lain untuk makan siang :p

always look elegant and delicious

MP

Ticino Trip part.4 (the rest of Locarno)

'Could you take my picture? 'Cause I won't remember...'
(Take A Picture by Filter)

Setelah dari Valley Verzacca, kami sempat jalan-jalan di kota Locarno yang besarnya paling hanya sepertiganya kawasan Bintaro (ini sedikit berlebihan, tapi kali aja bener :p).

Berikut ini beberapa fotonya:

Hari yang cerah identik dengan berkumpul untuk makan di restoran ala Italia

Castello Visconteo yang tidak lekang dikikis zaman

MP

Selasa, 11 Oktober 2011

Ticino Trip part.2 (Lugano)

Coba pikirkan salah kaprah dalam geografi yang sering terjadi. Kalau buat para bule, pasti sering banget salah kaprah kayak gini: mereka mengira Bali adalah negara sendiri, bukan bagian dari Indonesia. Nah, kalau saya, dulu sering salah kaprah bahwa Lugano adalah sebuah kota di Italia.

Setelah sampai di Swiss, untungnya saya langsung tahu bahwa itu salah. Lugano adalah kota terbesar di Kanton Ticino. Kota yang sangat indah dikelilingi pegunungan dan danau menakjubkan.

Kami menginap di salah satu hostel di kota Lugano. Namun, kota tersebut adalah kota kecil dengan penduduk hanya sekitar 55-ribu jiwa. Jadi, city-sightseeing hanya berlangsung sekitar sehari. Setelah itu, kami memutuskan untuk hiking. Tujuan kami saat itu adalah salah satu gunung yang mengelilingi kota Lugano, yaitu Monte San Salvatore.

Italia identik dengan apa, anak-anaaak? Ya pizza doong :p

Mencapai puncak Monte San Salvatore tidaklah sulit. Kami menumpang cable car sampai ke puncak, bersama para wisatawan lain yang datang dari berbagai daerah/negara. Perjalanan ke puncak hanya ditempuh kurang dari tiga puluh menit.

Setelah sampai di puncak, rasa takjub pun tanpa sadar menyusup ke setiap sanubari (cieeh, bahasanya). Maklum, pemandangan Lake Maggio (Danau Lugano) dari atas terlihat seperti lukisan yang hanya bisa diciptakan oleh kreasi Sang Maha Pencipta.

Che bellissimo! :)

MP

Ticino Trip part.1 (Bellinzona)

Orang-orang sering berkata bahwa untuk melihat keragaman di Swiss, belum lengkap jika belum ke bagian Swiss yang berbahasa Italia. Makanya, weekend kemarin (7-9 Oktober 2011) saya habiskan dengan sebuah trip ke kanton Ticino, satu-satunya kanton di Swiss yang berbahasa Italia. Oh ya, sedikit penjelasan bahwa kanton itu istilah pembagian wilayah, mungkin seperti 'provinsi' kalau di Indonesia.

3 hari memang bukan waktu yang panjang, jadi saat itu, tujuan saya dan teman-teman saya adalah tiga kota terbesar (dan terpenting) di Kanton Ticino, yaitu Bellinzona, Lugano dan Locarno. Dari namanya saja sudah tercium bau Italia-nya yaa?

Jadi, pada hari Jumat yang cerah, rombongan kami tiba di Bellinzona setelah menempuh perjalanan sekitar 2 setengah jam dari Bern. Kami dibuat terheran-heran dengan matahari Bellinzona yang bersinar terang, karena pada saat yang bersamaan, Bern dan kota-kota lain di seluruh belahan Swiss diguyur hujan. I think our trip was blessed, hehehe.

Salah satu tempat wisata menakjubkan yang ada di kota Bellinzona adalah tiga kastil besar yang menjadi ciri khas kota tersebut, sekaligus jadi warisan UNESCO. Tiga kastil ini sangat berpengaruh pada masa peperangan selama berabad-abad. Saat itu, kami berkunjung ke dua di antaranya, yaitu Castelgrando dan Castello di Sasso Sobaro.

Ada sejarahnya ternyata mengapa Bellinzona masuk wilayah Swiss, padahal kota tersebut awalnya dikuasai oleh keluarga bangsawan Milan di Italia. Pada awalnya, keluarga Visconti, yang menguasai Bellinzona, menjalin hubungan perdagangan baik dengan pihak Italia. Namun, setelah invasi Prancis di abad ke-16, Bellinzona dimasukkan ke wilayah Swiss bersama dengan dua tetangganya, Lugano dan Lucarno. Ini disebabkan karena pada saat itu Swiss dikuasai oleh pemimpin Prancis yang melegenda hingga kini, siapa lagi kalau bukan Napoleon Bonaparte.

So, here are some of the castle's photos:

mungkin ini lubang buat ngintip musuh udah sampai mana

bahkan rumput pun tumbuh di atap kastil dan membentuk jalan yang menuju ke tengah kota

view kota Bellinzona dari atas Castello di Sasso Sobaro

MP

Minggu, 02 Oktober 2011

Eyes on Geneve

'When life flashes before your eyes, make sure you've got plenty to watch'
(unanymous)

Yeah, in big cities like Geneve, I bet there are plenty to watch.

Geneve, atau Geneva, atau terkadang ditulis Jenewa di beberapa media berbahasa Indonesia, adalah kota terbesar nomor 2 di Swiss. Beberapa orang Indonesia yang saya kenal datang ke kota ini guna mempelajari ilmu diplomatik atau politik. Bisa dipahami, karena beberapa organisasi dunia bertempat di sini. Seperti perwakilan United Nations (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan World Trade Organizations (WTO).

Saya datang ke Geneve setelah mengunjungi Lausanne. Dengan menggunakan kereta, Lausanne-Geneve dapat ditempuh hanya dalam waktu 45 menit.

Terbiasa tinggal di Bern dalam beberapa minggu terakhir membuat saya sedikit gegar ketika menginjakkan kaki di Geneve. Kota tersebut benar-benar berbeda dari Bern yang merupakan kota kecil yang bersahaja. Geneve sendiri merupakan kota yang dipenuhi jalan-jalan raya lebar dan banyak kendaraan pribadi lalu-lalang. Meskipun kemacetannya tidak separah Jakarta, namun tetap saja lalu lintas Geneve terasa mengganggu.

Namun bukan berarti tidak banyak yang bisa dinikmati di kota ini. Yah, untuk kunjungan pertama saya ke kota tersebut, tentu saja saya ingin berkunjung atau sekadar berfoto di depan gedung UN. Saya memuaskan diri dengan mengambil foto di bawah monumen 'The Broken Chair', yang menjadi ciri khas perwakilan UN di Geneve.


Seolah-olah ingin memperkukuh anggapan sebagai kota diplomatik, kita bisa melihat berbagai patung, monumen atau landmark yang dipersembahkan bagi para tokoh dunia. Patung Mahatma Gandhi atau hotel President Wilson yang namanya dipersembahkan bagi President USA Woodrow Wilson, bapak penggagas the League of Nations--cikal bakal United Nations adalah dua di antaranya.


Last but not least, saya senang jalan-jalan di Lausanne dan Geneva, karena di kedua kota ini, penduduknya berbicara dalam bahasa Prancis, salah satu bahasa yang saya kuasai. Tidak seperti di Bern atau Zurich, dimana penduduknya berbicara dengan bahasa Jerman plus dialek Swiss yang kental (Swiss-German).

MP

Lovely Lausanne

Lausanne adalah kota yang menjadi markas komite Olimpiade dunia. Saya mengunjungi kota ini pada tanggal 26 September 2011. Saya memberanikan diri jalan sendiri, for the sake of experience, hehehe.

Ternyata, mengeksplorasi Lausanne tidaklah sulit. Kota ini memiliki satu-satunya fasilitas metro, semacam MRT di Singapura. Dengan menggunakan transportasi umum ini, awalnya saya mengunjungi Ouchy, yaitu dermaga yang merupakan pinggiran Lake Lemac (Danau Geneve). Sayang, mungkin saya datang di saat yang salah, karena pada saat itu tidak banyak yang bisa dilihat selain birunya air danau dan kapal-kapal yang bersandar di tepi dermaga. Katanya, pada saat summer/musim panas, kita bisa menemui banyak festival musik, makanan maupun olahraga air. Namun pada saat saya berkunjung tersebut tidak banyak yang bisa dilihat.


Lain halnya ketika setelah itu saya datang ke Lausanne Cathedral. Saya sudah sering berkunjung ke beberapa gereja katedral sebelumnya, but I must say, this one is simply the best. Banyak hal yang membuat saya terkagum-kagum, antara lain ukiran di langit-langit katedral yang masih terawat baik maupun makam-makam kuno yang kondisinya masih bagus meskipun sudah berusia ratusan tahun.


Pada hari itu pun, saya berjanji pada diri saya sendiri untuk mengunjungi Lausanne lagi suatu hari nanti. Aah, satu hari tidak pernah terasa cukup. :)

MP

Exploring Luzern


'...Lucerne yang dikelilingi benteng dan menara ini dibangun berkat tuntunan cahaya malaikat...'
(kutipan dari buku Life Traveler karya Windy Ariestanty)

Saya tiba di Bern pada tanggal 14 September 2011 dan pada tanggal 17 September, saya sudah berkelana ke Luzern.

Hampir semua orang Indonesia di Swiss (yang jumlahnya sama sekali tidak banyak) menganggap saya gila ketika mengetahui hal ini. Luzern, atau Lucerne dalam lafal Prancis, memang hanya 1 jam dari Bern naik kereta. Namun, tetap saja orang-orang mengerutkan dahi, mengapa saya tidak menghabiskan waktu untuk settle-in di Bern saja dulu sebelum pergi jalan-jalan mengunjungi kota lain.

Jawabannya adalah: Lake Lucerne.

Jika kalian meng-google atraksi wisata di Swiss, saya yakin hampir semua akan menyebutkan Danau Luzern. Kota ini memang indah. Begitu keluar dari stasiun kereta Luzern, kita akan langsung berhadapan dengan hamparan warna biru danau yang jernih. Saking jernihnya, tepat di ujung pandangan mata kita, berdampingan dengan deretan gunung pilatus, kita akan melihat biru danau tersebut seolah menyatu dengan birunya langit. Itu adalah Danau Luzern.

Maka, ketika rombongan kami (para mahasiswa Indonesia yang baru saja saya temui) memutuskan ingin naik ke perahu pariwisata untuk mengarungi Danau Luzern, saya senang bukan main.


It's an experience worth a lifetime.

Setelah puas naik perahu, kami berjalan-jalan kaki ke salah satu atraksi wisata terdekat. Itu adalah monumen The Dying Lyon. Patung berupa singa yang sedang sekarat ini dibangun pada abad ke-18. Kabarnya, patung ini didirikan untuk mengenang para tentara Swiss yang gugur di medan perang. Sampai sekarang, patung ini masih dalam kondisi bagus dan tetap terlihat mengharukan. Saat ini, di depan monumen tersebut ada sebuah kolam dimana para pengunjung melemparkan koin untuk berdoa atau memanjatkan harapan mereka.


Inilah yang mengagumkan dari Swiss. Yang menjadi atraksi utama bukanlah gedung-gedung pencakar langit atau struktur kota yang modern. Malah, kita dapat menikmati peninggalan sejarah yang sudah berusia berabad-abad. Saksi bisu dari peradaban manusia yang terus berkembang.

MP

Magical Bern


'...when you feel just like a tourist in the city you were born, then it's time to go...
and define your destination, there's so many different places to call home...'

(You Are A Tourist by Death Cab for Cutie)

14 September 2011 adalah hari pertama saya menginjakkan kaki di Bern, ibukota Swiss. Bukan, sebenarnya, hari itu adalah hari pertama saya menginjakkan kaki di dataran Eropa. Ya, finally, after years of days and nights dreaming about coming to Europe, this chance finally came. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya akan kuliah di Universitaet Bern, atau University of Bern untuk program Master of Science in Business Administration (M.Sc BA).

Sebelum saya berangkat, banyak orang mengerutkan kening ketika mendengar saya akan kuliah di Swiss. Mengapa Swiss? Mengapa bukan Jerman, Belanda atau Inggris/UK?

Well, itu mengingatkan saya ketika memperoleh kesempatan buat exchange ke Australia, empat tahun lalu (2007). Banyak orang geleng-geleng kepala ketika mengetahui saya memilih kota Newcastle sebagai tujuan, bukan nama-nama yang lebih 'mainstream' seperti Sydney atau Melbourne, misalnya.

The thing is, I just like to choose my own destination. I guess I like to be somewhere that's not many people think they will be. After all, Switzerland is really really nice.

Okay, mari kita bahas yang paling dekat dulu: Bern.

Bern dipilih menjadi ibukota Swiss, kabarnya tanpa alasan spesial. Sederhana saja, karena kota tersebut berada di tengah-tengah negara yang sebenarnya sangat kecil itu. Asal-muasal nama kota Bern juga sangat unik. Konon, penguasa wilayah pada saat kota Bern dideklarasikan, bingung memilih nama yang cocok untuk daerah kekuasaannya. Jadi, buat refreshing, dia pergi berburu, dan hewan hasil buruannya yang pertama adalah seekor beruang (bear). Setelah itu, mungkin sang penguasa berpikir, eh keren juga nih nama beruang dijadikan nama kota. Akhirnya sampai sekarang nama itu melekat, dengan seekor beruang sebagai simbol kota tersebut.

Luas kota Bern hanya 51 kilometer persegi dengan penduduk sekitar 125-ribu (dibandingin ama Jakarta nggak ada apa-apanya, hehehe). Atraksi pariwisata yang utama berada di seputar kota, jadi tidak mustahil untuk puas 'membabat' habis Bern dalam setengah hari. Namun, bukan berarti Bern lantas menjadi membosankan. Banyak pemandangan menarik yang bisa disaksikan seperti lokasi di sekitar Sungai Aare.

Pada saat saya pertama kali tiba di Bern, musim gugur baru saja tiba. Sungai Aare terlihat seolah-olah seorang gadis muda yang sedang cantik-cantiknya. Permukaannya yang berwarna biru jernih memantulkan cahaya matahari. A little piece of heaven! :)

Oh ya, yang menarik adalah, orang-orang Bern selalu membanggakan Einsteinhaus, yaitu rumah yang pernah menjadi tempat kediaman ilmuwan kesohor Albert Einstein. Yap, Einstein pernah tinggal di Bern pada tahun 1902 sampai 1909. Di sinilah teori relativitas mulai dikembangkan.


Sampai di sini dulu ya, cerita tentang Bern. Saya tinggal di kota ini kok, jadi tentu saja akan menyusul cerita-cerita baru tentang ibukota Swiss ini.

MP

Kamis, 22 April 2010

Glorious Sydney


What more can I say about Sydney?

Well, itu adalah salah satu kota yang paling terkenal di seluruh dunia. So, jangan salahkan saya yang terlampau sering berkunjung ke sana. Beberapa foto ini menunjukkan beberapa event yang saya jalani selama berada di kota yang terkenal dengan Opera House-nya itu.

Berbelanja di Queen Victoria Market

Foto iseng di Luar Opera House

More reports and photos will come!

<_mp_>

Other Sides of Singapore


Exploring Singapore, pasti kita semua akan membicarakan suasana kota metropolitan, shopping, gedung pencakar langit, dan segala hal yang mewah... well, sewaktu berkunjung ke Singapore di bulan Agustus, I try something quite new... Selain berkunjung ke beberapa site populer, seperti (tentunya) Merlion yang kesohor itu, saya juga berkunjung ke Kampus NTU, dan beberapa lokasi tradisional lainnya...

Lokasi tersebut bernama Haw Par Villa... di kompleks ini banyak eksibisi atau miniatur yang berasal dari mitos Tionghoa...
Selain itu, saya juga mengunjungi Sri Mariamman Temple, yaitu tempat peribadatan agama Hindu yang telah berada di Singapura sejak abad ke-17 kalau tidak salah...


<_mp_>

5 Days in Boston

Sebelum ke New York, saya dan teman-teman menyempatkan diri untuk berkunjung ke Boston. Eh salah, memang acara utamanya di Boston sih, hahaha... Yang pertama, kami berkunjung ke landmark-nya Boston yaitu Faneuil Hall, yang bentuknya seperti gereja gede berwarna merah maroon ini:

By the way, pas datang ke sana, kebetulan masih peralihan ke musim semi... All rivers and ponds were still frozen. Just like in this picture.

More Boston experiences will come!

<_mp_>

Rabu, 21 April 2010

New York, New York!

when : February 2006

New York sepertinya menjadi salah satu kota yang selalu menjadi impian siapapun di seluruh dunia untuk dikunjungi. Yaah, ini mungkin pengaruh dari seringnya Kota berjulukan Big Apple ini diangkat menjadi latar film-film terkenal. Dari King Kong zaman jebot (tahun 1930-an), tahun 1970-an seperti Taxi Driver sampai Spiderman dan film-film disaster seperti Godzilla dan The Day After Tomorrow, bangunan-bangunan dan lokasi-lokasi seputar NY pasti selalu tampil.

Saya mengunjungi kota megapolitan ini pada tahun 2006, tepatnya sekitar bulan Februari. Waktu itu saya berenam, bersama teman-teman. Kami semua mengunjungi kota ini right after attending a student conference in Boston.


Selain saya, kelima temen saya adalah Achy, Lala, Byan, Puti dan Aloy. Bus membawa kami dari Boston selama 4 jam ke New York. Setiba di sana, kami nginep di Hotel yang terletak di depan Madison Square Garden.

Jalan-jalan di New York tepat ketika musim dingin baru berakhir, tetap menyisakan udara dingin yang menusuk tulang. saya dan teman-teman wajib mengenakan pakaian berlapis-lapis di bawah jaket tebal.

Perjalanan ke NY ini benar-benar nggak terlupakan. Landmark dan lokasi-lokasi bersejarah yang kami kunjungi antara lain, The New York Metropolitan Museum (The Met), Trump Tower, Central Park, Empire State Bulding, dan tentu saja, Patung Liberty!

<_mp_>