Rabu, 21 Desember 2011

Next Destination?

Seorang teman pernah nagih postingan saya tentang Barcelona. Yap, sekitar satu setengah bulan yang lalu, saya memang mengunjungi kota yang sejak kecil saya impikan itu.

Bukannya tidak mau mem-posting tentang perjalanan di kota tersebut. Kenyataannya, saya sudah duduk di depan komputer untuk menuliskan pengalaman saya selama kurang lebih tiga hari disana. Namun ternyata.. tulisan tersebut cukup sulit untuk dibuat. Entah ya.. apa sebabnya.. tapi kesimpulan saya, memang butuh waktu lebih untuk mengungkapkan keindahan suatu kota dan digabungkan dengan pengalaman kita selama traveling di sana.

Ini berbeda dengan jika saya menuliskan tempat-tempat yang saya kunjungi di Swiss. Hasil traveling saya di Barcelona sepertinya sangat sayang jika hanya dituangkan ke dalam suatu postingan 'biasa-biasa' saja.

Maka, saya bertekad untuk menyimpan dulu postingan tersebut. Selain karena saya sedang terbelit belenggu ujian selama seminggu ini, saya ingin sekaligus menuangkan pengalaman saya di Barcelona dengan... berbagai pengalaman menakjubkan lain di beberapa sudut dunia lainnya.

Ya, untuk akhir Desember 2011 sampai Januari 2012, agenda saya sudah berisikan beberapa lokasi yang akan saya kunjungi. Dari Paris sampai Berlin, dengan beberapa 'belokan' ke Praha, Stockholm, dan kemungkinan.. Budapest, awal tahun 2012 saya akan penuh dengan traveling!

Maka, mungkin saya akan menuliskan pengalaman di Barcelona yang lalu dalam mood dan waktu yang sama dengan penulisan saya akan pengamanan di perjalanan Desember-Januari tersebut. Jadi, ditunggu saja ya.. Yang jelas, tulisan di blog akan menjadi buah tangan paling minimal yang akan saya bawa sebagai hasil perjalanan.

Artinya: besar kemungkinan saya akan mengambil beberapa inspirasi dari petualangan saya tersebut ke dalam sebuah novel baru!

I'm really excited to do the adventure. It's not only about the travel.. It's also about cruising life !

MP

Solothurn: Garuda Overseas

Postingan ini telat sebulan, tapi tetap saja, terlalu menarik untuk dilewatkan.

Pada final SEA Games yang berlangsung pada tanggal 21 November 2011, final cabang olahraga yang paling bergengsi, yaitu sepakbola, mempertemukan Indonesia dan Malaysia. Tidak mau kalah dengan jutaan warga Indonesia yang mendukung tim kesayangan kita, saya dan beberapa teman yang sedang berdomisili di luar negeri membuat suatu gerakan di Twitter yang pada akhirnya dikenal dengan #GarudaOverseas

Gerakan tersebut diprakarsai oleh teman saya, Rusmin, yang sekarang berada di Trieste, Italia. Aturannya, kami harus mem-posting foto kami dengan bendera atau atribut timnas Indonesia di depan sebuah landmark ternama di kota manapun di luar negeri.

Nah, saya sendiri, tepat pada hari itu, sedang berada di kota Solothurn. Di kota kecil yang letaknya bisa dicapai sekitar setengah jam naik kereta ini, saya bersama dua teman saya yang lain asal Indonesia berkeliling mencari spot yang bagus untuk berfoto. Hasilnya bisa dilihat di foto-foto di bawah ini.

Di depan Katedral Solothurn

Oh ya, ada suatu hal yang unik. Di saat kami sedang mencari lokasi untuk berfoto, tiba-tiba kami melihat jejeran bendera merah-putih terpasang di sepanjang jembatan yang melintasi Solothurn River. Langsung saja, kami meminta bantuan kepada warga setempat untuk mengambil foto kami di lokasi unik tersebut. Hasilnya, bisa terlihat seolah-olah warga Solothurn ikut mendukung perjuangan tim sepakbola Indonesia dengan memasang bendera merah-putih di sepanjang kota mereka.

Seisi kota Solothurn mendukung Indonesia!

Padahal, merah-putih adalah bendera kanton Solothurn yang kebetulan juga berwarna merah dan putih. What a sweet coincidence! :D

MP

Kamis, 24 November 2011

Basel

Selama dua bulan lebih tinggal di Swiss, hampir semua kota besar sudah saya kunjungi. Kecuali satu kota besar: Basel. Sejauh ini memang belum ada urusan yang mengharuskan saya ke sana. Sampai pada akhirnya, weekend lalu, saya diundang untuk menghadiri suatu acara ulang tahun yang juga merupakan ajang silaturahmi masyarakat Indonesia se-Swiss.

belum sempat ngambil foto, maka foto ini saya ambil di http://www.mascotte.ch/1962/

Basel, yang sekarang terkenal dengan tim sepakbolanya yang sukses mempermalukan Manchester United di turnamen Liga Champions, merupakan kota yang terbilang metropolitan. Selain Zurich, kota ini adalah salah satu kota terluas dan terpadat. Mungkin karena mengingat statusnya sebagai kota industri.

Sayangnya, karena cuma sehari, belum banyak yang bisa saya ceritakan dari kota ini. Semoga suatu hari saya bisa kembali ke kota ini untuk membawalebih banyak cerita. Namun, yang pasti, setelah mengunjungi Basel, seolah saya telah menemukan missing link yang membuat saya sudah menjelajahi seluruh kota penting di Swiss! :)

MP

Zurich

Setelah lebih sebulan tidak meng-update blog ini, tanpa terasa musim dingin sudah berada di depan pintu. Angin dingin yang menusuk tulang mulai merasuk lewat sela-sela jendela. Saya teringat untuk segera menyalakan penghangat ruangan. Namun, dinginnya udara luar tidak menghalangi saya untuk berkunjung ke kota terbesar dan terpadat di Swiss, yaitu Zurich.

Ya, seperti sudah sering kita bahas, Zurich selalu membuat orang-orang kecele. Banyak yang mengira bahwa inilah ibukota Swiss, padahal bukan. Meski demikian, kota ini merupakan kota dengan populasi terbanyak, sekitar 380-ribu jiwa (ini pun tidak ada apa-apanya dibanding populasi Jakarta, hahaha).

Saat pertama sampai di stasiun kereta Zurich pun, suasana kota metropolitan sudah terasa. Pelataran yang luas dan hiruk-pikuknya orang yang berlalu-lalang menegaskan semua itu. Begitu saya melangkahkan kaki ke luar, saya disambut dengan padatnya lalu-lintas, tidak peduli dengan udara di penghujung musim gugur yang sudah nyaris beku.

Saya memang cuma menghabiskan satu sore menjelang malam di kota itu. Kesan yang saya dapatkan pun sangat berbeda dengan Bern. Kota Zurich seakan menegaskan diri sebagai pemimpin di daerah Swiss yang berbahasa Jerman: selalu terlihat sibuk dengan jutaan hal berbeda terjadi setiap hari. Roda perekonomian yang terus berputar karena banyaknya pusat perbelanjaan, disokong dengan sistem perbankan paling aman di dunia. Otomatis, Zurich menawarkan sejuta kesempatan kerja. Ya, saya melihat banyak sekali wajah Asia maupun India selama berjalan-jalan di kota ini. Hal tersebut menandakan bahwa Zurich membuka kesempatan bagi siapa saja untuk bersaing mencari pekerjaan di sana.

Namun, yang saya salut, di tengah segala kesibukan dan hiruk-pikuknya, Zurich tidak lupa menyimpan pesonanya. Hal tersebut bisa dilihat dari foto pemandangan Danau Zurich yang sekaligus menjadi penutup postingan saya ini:


Senin, 17 Oktober 2011

The Famous Matterhorn

Pada suatu hari, saya dibuat tertarik oleh sebuah ajakan teman saya, Iwa, yang sudah dua tahun tinggal di Swiss dan cukup aktif juga menulis blog seputar pengalamannya hidup di Swiss. (blognya bisa dicek di http://sobara.wordpress.com/). Ajakan yang lucu ini tidak akan pernah saya lupakan.

'Mau ikut naik ke gunung yang ada di kemasan cokelat Toblerone, nggak?'

Tanpa pikir panjang lagi, sebagai seseorang yang lumayan gila petualangan, saya ikut dengannya ke kota Zermatt yang ditempuh sekitar dua jam perjalanan dari kota Bern. Lalu, dari Zermatt, kami naik ke 'Gunung Toblerone' dengan menumpang sebuah cable car.

Tunggu dulu! Sepertinya ada yang salah. Nama gunungnya apa ya? Masak terus-terusan kita sebut 'Gunung Toblerone'?

Ya, sampai sekarang, jika mengingat bentuk gunung tersebut yang memang cukup unik, di otak saya akan terlintas kata 'Toblerone'. Special thanks untuk teman saya itu, yang membuat penyebutan gunung ini jauh lebih mudah secara mengasosiasikannya dengan cokelat Toblerone. Rasanya, sampai kapanpun juga, saya akan mengingat gunung ini sebagai 'Gunung Toblerone'. :p

Gunung ini sendiri bernama Matterhorn. Gunung tersebut selalu ditutupi es dan salju karena ketinggiannya yang mencapai 4.478 meter. Ketinggian tersebut membuatnya menjadi gunung tetinggi di Kawasan Alpen dan salah satu yang tertinggi di Eropa.

Anyways, kenyataan itu sempat membuat saya bangga, karena dengan berkunjung ke Matterhorn, berarti saya sudah mengunjungi tiga dari beberapa puncak tertinggi di Swiss (dan juga Eropa). Dua lainnya adalah puncak Stockhorn (ketinggian 2.190 meter, lihat postingan Saturday Hiking ) dan Monte San Salvatore (sekitar 1.000 meter, lihat postingan Lugano ). Meskipun tidak semuanya dilalui dengan cara mendaki karena terbantu dengan fasilitas cable car, tapi menikmati pemandangan indah dari ketinggian selalu menghasilkan kesenangan tersendiri, bukan? :)

MP

The Chocolate Factory (without the Oompa Loompas)

Saya ingat waktu saya masih kecil, setelah membaca buku karangan Roald Dahl, Willy Wonka and the Chocolate Factory, saya sampai kebawa mimpi makan ratusan permen cokelat. Lalu, sekitar enam tahun lalu, dirilislah film Charlie and the Chocolate Factory buatan Tim Burton yang dibintangi Johnny Depp sebagai Willy Wonka si pemilik pabrik cokelat. Sampai pada saat itu, pengalaman di sebuah pabrik cokelat hanyalah sebatas angan-angan belaka. Belum pernah terpikirkan dalam pikiran saya bahwa suatu hari nanti akan mengunjungi sebuah pabrik cokelat.

Namun, saat itu akhirnya datang juga. Pada hari Sabtu, 15 Oktober 2011, saya dan beberapa orang teman berkunjung ke sebuah pabrik cokelat di Broc. Di sini kami melihat langsung proses pembuatan cokelat serta sejarah singkat industri cokelat di Swiss, yang pada akhirnya menguasai dunia.

Cerita singkatnya, pada abad ke-19, seorang pengusaha bernama Francois-Louis Cailler mengusulkan sesuatu yang berbeda dari cokelat yang beredar di pasaran. Cailler mengemas cokelat menjadi lebih praktis, yaitu cokelat batangan. Ide ini menarik perhatian dua orang pengusaha lain, yang pada akhirnya menjadi trio pionir industri cokelat di Swiss dan bahkan Eropa. Kedua pengusaha itu adalah Charles Kohler, pengusaha pertama yang memadukan biji hazelnut di dalam cokelat, dan Henri Nestle. Nama terakhir, tentu saja kita kenal sebagai pengusaha yang mengembangkan susu produksi asli Swiss. Di saat inilah perpaduan cokelat-susu (milk-chocolate) pertama kali dilakukan dan menjadi makanan yang sangat digemari di seluruh dunia sampai sekarang.

Di zaman sekarang, ketiga nama pengusaha tersebut telah menjadi brand tersendiri. Cailler dan Kohler tetap menjadi market-leader produsen cokelat di Swiss. Nama mereka juga tidak terpisahkan dari berbagai kemasan cokelat yang beredar di toko-toko. Sedangkan Nestle? Siapa sih yang nggak pernah dengar nama perusahaan raksasa dunia ini?

Oke, sudah cukup ya ceritanya... Beberapa foto dari dalam pabrik cokelat tersebut bisa dilihat di bawah ini:

bahan-bahan baku berupa cokelat dan hazelnut (kacang mede) yang belum diproses

proses dilakukan oleh mesin pembuat cokelat tersendiri

you can see the chocolates there, fresh and new

buat yang berminat, ada kelas pembuatan adonan cokelat nih

berbagai bentuk cokelat yang lucu-lucu

okay, saya tidak perlu makanan lain untuk makan siang :p

always look elegant and delicious

MP

Ticino Trip part.4 (the rest of Locarno)

'Could you take my picture? 'Cause I won't remember...'
(Take A Picture by Filter)

Setelah dari Valley Verzacca, kami sempat jalan-jalan di kota Locarno yang besarnya paling hanya sepertiganya kawasan Bintaro (ini sedikit berlebihan, tapi kali aja bener :p).

Berikut ini beberapa fotonya:

Hari yang cerah identik dengan berkumpul untuk makan di restoran ala Italia

Castello Visconteo yang tidak lekang dikikis zaman

MP