Selasa, 31 Desember 2013

Bab 8: Free Walking Tour

Nah, ceritanya di bab ini, Al dan Miguel memikirkan sebuah konsep baru untuk mengantarkan para traveler menikmati suasana kota Makassar, plus memberi mereka pengetahuan sejarah terkait Bugis-Makassar. Mereka sampai pada suatu kesimpulan, yaitu merekrut seorang karyawan baru untuk menjadi tour guide agar bisa memandu walking tour.

Selama beberapa kali traveling di beberapa negara di Eropa, saya cukup sering memakai jasa walking tour. Cara mainnya juga cukup adil, yaitu kita bebas menjadi peserta tur, dan mendengarkan si pemandu menjelaskan asal-usul atau cerita-cerita terkait tempat-tempat bersejarah di kota tersebut. Kita tidak dikenai bayaran, tapi bebas memberi tip yang besarannya berapa saja (seikhlasnya). Jadi, kalau si tour guide-nya menyenangkan, passionate dan informatif, kita sebaiknya memberi tip gede. Tapi kalau kita nggak suka sama jasa di tour guide (atau mungkin tidak punya hati), kita nggak usah bayar.

Tambahan lagi, banyak informasi menarik yang disampaikan oleh sang tour guide yang kadang terlewat di buku-buku panduan wisata. Contohnya, sewaktu di Berlin, peserta tur dipandu untuk berjalan-jalan ke lokasi yang berada tepat di atas bunker tempat Adolf Hitler bunuh diri. Nggak banyak orang yang tahu karena saat ini lokasi tersebut telah menjadi... pemukiman penduduk! 

para guide walking tour di Praha menggunakan kostum medieval untuk menarik perhatian


ada juga yang cukup pede hanya dengan bermodalkan payung unik
Tour guide di Berlin yang menunjukkan lokasi bunker Hitler. Ssst, orangnya cantik, lho!
Mas-mas di Kastil Praha ini kurang medieval apa lagi, coba?
 Salah satu info menarik lain yang saya peroleh adalah di Praha. Para peserta tur dan tentunya saya dibuat terkikik geli ketika si tour guide menceritakan bahwa di zaman dulu Republik Ceko sangat miskin sehingga tidak sanggup melengkapi Prague Castle (kastil Praha) penerangan yang memadai. Namun, saat ini salah satu kastil terunik di dunia tersebut telah diterangi oleh cahaya lampu-lampu teknologi tinggi yang dibelikan oleh... Mick Jagger! Konon, Jagger adalah sobat karib dari almarhum mantan presiden Ceko, Vaclav Havel. Vokalis band Rolling Stone ini kasihan melihat kastil tersebut gelap sehingga menghibahkan lampu-lampu yang tadinya dipersiapkan sebagai pelengkap konser The Rolling Stones di Praha. Hahaha, ada-ada saja!

Makanya, sampai skarang setiap kali saya berkunjung ke sebuah kota sendirian dan tidak punya kenalan siapapun di sana, saya pasti akan mempergunakan jasa walking tour!

Bab 7: Kopenhagen

Saya traveling ke ibukota Denmark ini bulan Desember 2011 dan menghabiskan pergantian tahun di sana. Kota ini sangat rapi dan teratur, sehingga mau tidak mau saya harus memasukkannya ke dalam cerita. Daripada banyak bicara, langsung saja deh kita lihat foto-fotonya!

tentara 'kaleng biskuit' sedang baris-berbaris
ini maksudnya, hehehe
pemandangan kanal ini yang membuat saya terpesona
para tentara sedang shift jaga di istana Ratu
Patung Mermaid yang terkenal itu (padahal menurut saya biasa banget)
saya lebih tertarik pada patung ini: Amelia Earhart, pilot wanita yang hilang tanpa diketahui rimbanya sampai sekarang
saya di depan town hall CPH

Bab 6: Must-See Places

Di Bab ini, dikisahkan Hostel Makassar Paradise mulai rame oleh pengunjug dari berbagai negara. Oh ya, sudah dijelaskan kalau Makassar Paradise ini terinspirasi oleh Hostel Helter Skelter yang pernah saya kunjungi di Berlin. Ini adalah sedikit foto penampakan Helter Skelter:

Kemudian, sempat disinggung oleh para karakter wisatawan mancanegara mengenai kesenian I La Galigo yang menjadi interest mereka. I La Galigo sendiri merupakan kesenian Bugis yang sudah berusia ratusan tahun, dan merupakan epik tertua di bumi (katanya). Sayangnya, karena kurang diekspos dan digali, maka epik ini kalah pamor oleh Mahabarata atau Homer, misalnya.
salah satu pementasan I La Galigo (sumber: sulsel.go.id)

Bab 5: Banco de Favores

Konsep mengenai 'bank budi' (banco de favores) sudah dijelaskan sebelumnya. Saya membuka bab ini dengan sebuah flashback ketika Al dan Nadia traveling di Madrid.

Saya memang traveling ke ibukota Spanyol ini di pertengahan 2012 lalu. Di sana, saya sempat nonton bullfight yang merupakan tradisi masyarakat Spanyol tapi dibenci aktivis hewan di dunia. To be honest, saya juga nggak tahan melihat banteng-banteng itu dibunuh begitu saja hanya demi tontonan. Very cruel!

Perasaan itulah yang saya buat menjadi sebuah adegan ketika Nadia ngambek kepada Al, lalu mereka kejar-kejaran dan baikan lagi deh setelah dibuat terhibur oleh seorang street performer di daerah Plaza Mayor (foto di atas).

Selasa, 19 November 2013

Bab 4: Funny Twist of Destiny

Di bab ini, Al menjelaskan betapa uniknya situasi yang dialaminya, yaitu memperoleh bantuan tak terduga dari kedatangan Miguel. Terlebih setelah Miguel menjelaskan alasan membantu Al mengembangkan bisnis hostelnya adalah konsep 'bank budi' (banco de favores) yang dipopulerkan Paulo Coelho di dalam novel The Zahir.

Konsep 'bank budi' adalah dengan kita berbuat baik kepada seseorang, kita telah menabung sebuah perbuatan baik di 'bank budi', sehingga pada suatu saat pertolongan akan kembali kepada kita, meskipun tidak harus melalui orang yang kita pernah tolong sebelumnya.

sumber: www.stockercary.com

Rabu, 20 Maret 2013

Bab 3: Miguel

Karakter Miguel yang asal Spanyol sebenarnya terinspirasi oleh dua orang. Keduanya teman saya, dan keduanya berasal dari Spanyol.

Yang pertama bernama Miguel Fuentes (makanya nama karakter di novel adalah Miguel), dan yang kedua adalah Jose Manuel Martinez Carrion (nama keluarganya saya pakai untuk menjadi nama keluarga karakter di novel: Miguel Carrion).

Jose adalah yang kedua dari kiri, Miguel adalah yang paling kanan
Beberapa karakteristik mereka saya pakai untuk menggambarkan karakter Miguel di novel. Miguel (in real life) orangnya tinggi, charming, dan agak pendiam. Sedangkan Jose suka bercanda dan sedikit lebih terbuka. Meski demikian, keduanya tidak terlalu fasih berbahasa Inggris sehingga selalu berbicara campur-campur antara bahasa Inggris dan Spanyol.

(bersambung...)

Bab 2: Al dan Bebi

Sosok Al, sebagai karakter utama, tentu saja terinspirasi dari sosok saya sendiri (hehehe). Jadi jangan heran jika Anda mengenal saya secara pribadi dan ketika membaca Dream Together tiba-tiba merasa, 'Al ini Mahir banget!'

Can't imagine a better character as Al but myself
Sedangkan karakter Bebi saya ciptakan karena pengen bikin cerita dimana tokoh utamanya mempunyai sidekick sesosok pria yang ke-wanita-wanita-an. Yah, seperti karakter Emon di film Catatan Si Boy deh. :D

Didi Petet sebagai Emon
'...dalam cerita hidupku, Bebi adalah peran pembantu dengan kadar urgensi yang nyaris mendekati pemeran utama.' - Al tentang Bebi.

(bersambung...)

Bab 1: Paradise Now

'Setiap kali seseorang mendengar bahwa kalau aku menjalankan bisnis hostel, mereka pasti mengerutkan kening...' - Al.

Semua bermula ketika saya memperoleh ide cerita ini di Berlin. Saat itu saya menginap di Hostel bernama Helter Skelter. Ya, nama hostel tersebut mungkin diambil dari judul lagu The Beatles. Pemilik hostel tersebut pasti penggemar Beatles.

Ruangan social room hostel Helter Skelter di Berlin
Lalu, sekembalinya saya ke Swiss, saya pun mulai menyusun kerangka cerita untuk Dream Together. Tentang pria berusia pertengahan dua puluhan bernama Al yang menjalankan bisnis hostel. Seting cerita mengambil tempat di kota kelahiran saya, di Makassar. Maka, hostel milik Al bernama 'Makassar Paradise'. Dari kutipan-kutipan lagu yang bertebaran di sana-sini, bisa ditebak kata 'paradise' di nama hostel terinspirasi dari judul lagu milik band Coldplay.

Suasana sore hari di Pantai Losari (diambil dari 2dheart.wordpress.com)

Lokasi hostel Makassar Paradise pun diceritakan sangat strategis, tepat di seberang jalan dari ikon kota Makassar, Pantai Losari.

(bersambung...)

Novel 'Rhapsody' dan Makassar Paradise


Ada yang bilang bahwa sebuah perjalanan, sejauh apapun itu, akan selalu membuatmu merindukan rumah. Itulah yang terjadi kepada saya selama hampir dua tahun terakhir.

Saya pertama kali sampai ke Swiss pada September 2011. Tujuan saya sebenarnya adalah untuk kuliah, tetapi daratan Eropa memang terlalu menggoda untuk tidak dijelajahi. Maka, saya pun melakukan sedikit perjalanan ke beberapa negara Eropa di sekitar Swiss. Ternyata kerinduan pada rumah dan kampung halaman selalu menyertai setiap langkah kaki saya di negara mana pun saya berada.

Akhirnya timbullah keinginan untuk menulis sebuah buku tentang perjalanan, sekaligus tentang kampung halaman. Pada mulanya, saya menginginkan buku ini menjadi sebuah catatan perjalanan. Namun di tengah-tengah, saya merasa apa yang telah saya tulis terlalu membosankan. Sebagai penulis yang sudah menerbitkan sebuah novel, saya memang ingin perjalanan-perjalanan saya dibumbui cerita-cerita fiksi. Akhirnya saya pun banting setir untuk menulis cerita fiksi dalam bentuk novel. 

Cerita ini tentang pemuda bernama Al yang menjalankan usaha hostel sederhana di kota Makassar. Usaha yang sempat mandek itu akhirnya berjalan lancar dibantu oleh seorang asing bernama Miguel. Al dan Miguel pun mengalami kejadian demi kejadian yang mengubah hidup mereka.

Penulisan novel Rhapsody (judul awalnya Dream Together) memakan waktu sekitar empat bulan, terhitung dari Februari 2012 sampai Juni 2012. Setelah menunggu sekitar setahun lebih bulan, GagasMedia akhirnya menerbitkan novel ini dengan beberapa catatan dan perubahan.

Meski demikian, saya mempertahankan beberapa kejadian nyata yang benar-benar saya alami di dalam perjalanan untuk dipadukan dengan cerita rekaan. Pada akhirnya, hasil akhir cerita ini adalah perpaduan sekitar 60% karangan dan 40% kejadian nyata.

cover by Aneesy (GagasMedia)

Change of Content

Halo semuanya,

Blog ini sudah hampir setahun saya anggurin, hahaha. Punya banyak blog memang berisiko membuat salah satu akan ditinggalkan. But now, here I am again!

Ada sedikit pengumuman berkaitan dengan isi blog ini. Jika sebelumnya berisikan perjalanan-perjalanan yang saya lakukan, kali ini, mulai Maret 2013, blog ini akan segera beralih fungsi.

Blog ini akan berubah menjadi semacam promotional website untuk mendukung novel saya yang (rencananya) akan segera terbit bulan Maret atau April 2013. Judulnya 'Dream Together' terbitan GagasMedia.

Novel ini sendiri merupakan gabungan antara pengalaman nyata saya dengan beberapa kisah fiksi. Jadi, tetap saja blog ini akan berisikan catatan-catatan perjalanan dan foto-foto saya dalam satu-dua tahun terakhir.

Oh ya, nama blog ini juga akan berubah menjadi www.mphostel.com . Jika nanti kalian membaca novel saya, maka pasti akan tahu maksud nama website tersebut.

Novelis Orhan Pamuk dengan Museum of Innocence-nya. Photo by Guardian (UK)
Penulisan blog ini nantinya akan terinspirasi dari novel 'The Museum of Innocence' karya novelis Turki, Orhan Pamuk yang dijelaskan secara bab per bab oleh sebuah bangunan di Istanbul yang bernama sama, Masumiyet Muzesi alias Museum of Innocence. Di blog ini, saya akan menjelaskan inspirasi cerita di novel Dream Together lengkap dengan foto-fotonya.

Enjoy!

MP

Senin, 02 Juli 2012

Euro 2012 Trip: Warsawa

(Go west) Life is peaceful there
(Go west) In the open air
(Go west) Where the skies are blue
(Go west) This is what we're gonna do

(Go West by Pet Shop Boys)

Saya sengaja memulai postingan dengan mengutip lagu klasik bernada ceria dari Pet Shop Boys di atas. Postingan ini adalah tentang Warsawa, ibukota Polandia berpopulasi 1,8 juta jiwa yang menjadi salah satu panggung utama turnamen sepak bola Euro 2012. Di kota ini, acara pembukaan pesta sepak bola Eropa empat tahunan tersebut dilaksanakan. Mendadak, jutaan pasang mata tertuju ke kota yang tadinya hanya memiliki klub sepak bola medioker bernama Legia Warsaw ini.

Hubungannya dengan lagu tersebut? Sepanjang perjalanan Poznan-Warsawa, saya sering berpapasan dengan para pendukung tim sepak bola Polandia yang menyanyikan yel-yel 'Polska', atau nama lain negara Polandia. Nah, cara mereka menyanyikan yel-yel itu adalah dengan mengambil bait awal dari lagu 'Go West' tersebut dan menggantinya dengan 'POLSKA'!

Saya sendiri awalnya tidak berencana mengunjungi Warsawa, namun setelah beranggapan bahwa mengunjungi suatu negara tidak afdal jika tidak mengunjungi ibukotanya, maka akhirnya saya melanjutkan perjalanan dari Poznan ke Warsawa. Saya pun meninggalkan Poznan pada 17 Juni 2012 dan menumpang kereta antar kota ke Warsawa yang menempuh perjalanan sekitar 4 jam. 

Perjalanan ke Warsawa sama sekali tidak bisa dibilang menyenangkan. Kereta yang saya tumpangi tidaklah lebih baik dari kereta antar kota di Jawa, yang menghubungkan antara Jogja dan Bandung, misalnya. Awalnya, kereta tersebut telat satu setengah jam dari jadwal, sehingga membuat banyak penumpang terlantar. Lalu, kereta ini termasuk jenis kereta ekonomi sehingga tidak dilengkapi dengan sistem pendingin dan sering berhenti untuk menunggu kereta lain lewat. Alhasil, saya sering berkeringat selama perjalanan di atas kereta. 

Sesampainya saya di Warsawa, saya dibuat kagum karena Warsawa terlihat seperti versi lain kota Berlin. Serupa tapi tak sama. Warsawa dan Berlin sama-sama dikenal sebagai 'kota Phoenix', mengacu pada burung Phoenix di cerita Yunani kuno. Ceritanya, burung Phoenix, meskipun terbakar habis, selalu mampu lahir kembali dalam suatu bentuk baru. Begitu halnya dengan Warsawa dan Berlin. Meskipun kedua kota ini sama-sama pernah luluh lantak akibat perang dunia, namun mereka selalu berhasil dibangun kembali sehingga sekarang menjadi kota yang modern dan nyaman untuk ditinggali.

Perbedaannya, warga Warsawa jarang yang bisa bahasa Inggris. Saya kadang mencoba bahasa Jerman, namun ternyata kebanyakan orang hanya bisa berbahasa Polska. Anyways, setelah keluyuran beberapa jam mencari hostel tempat menginap, akhirnya saya berhasil menemukannya. Setelah menyimpan barang bawaan, saya pun bergegas datang ke fan zone, atau area yang disulap menjadi tempat nonton bareng pertandingan Euro 2012. Pada malam hari itu, warga Polandia berduyun-duyun datang ke fan zone untuk menyaksikan salah satu pertandingan terpenting bagi tim sepak bola mereka: Polandia melawan Republik Ceko. Jika Polandia menang, maka tim mereka akan berhasil masuk ke 8 besar.


Fan zone Warsawa pada petang hari itu pun menjadi salah satu crowd dengan jumlah terdahsyat yang pernah saya alami. Mungkin ada sekitar 200-ribu sampai 300-ribu orang yang memadati fan zone Warsawa demi mendukung timnas mereka bertanding. Berada di tengah kerumunan massa ini benar-benar merupakan suatu pengalaman hidup yang tak terlupakan bagi saya.

Sayangnya, perjuangan tim nasional Polandia pada hari itu tidak berakhir bahagia. Mereka harus menerima kenyataan takluk dari Ceko dengan skor 0-1. Nyanyian 'Polska' dengan nada lagu 'Go West' pun perlahan-lahan mulai menghilang. Digantikan dengan wajah kekecewaan para pendukung yang meninggalkan fan zone.

MP

Euro 2012 Trip: Poznan (2)

Okay, inilah yang ditunggu-tunggu dari perjalanan saya ke Polandia: nonton langsung match Euro 2012 di stadion!

Match yang saya tuju adalah pertandingan antara Italia melawan Kroasia, 15 Juni 2012. Poznan sendiri sudah diramaikan oleh pendukung-pendukung Kroasia dan Italia sejak 14 Juni. Masalah muncul bagi saya karena saya datang ke kota Poznan dengan modal nekat: belum punya tiket!

Rusmin sendiri sudah berhasil membeli tiket dari sebuah website beli tiket online. Tiket yang didapatkannya adalah tempat duduk kategori 2 yang harga aslinya 30 Euro, diperolehnya dengan harga 60 Euro. Saya dan Sendy akhirnya nekat saja datang ke stadion Miejski Poznan satu jam sebelum pertandingan dimulai, berharap bisa membeli tiket dari calo sambil berdoa supaya harga yang dipatok oleh para calo nggak mahal-mahal amat.

Kami pun berangkat ke stadion Miejski dengan menggunakan tram. Seluruh transportasi umum penuh penumpang yang hanya berpergian dengan satu tujuan: datang ke stadion. Mereka tidak ingin ketinggalan menjadi saksi sejarah turnamen sepak bola akbar yang terjadi hanya empat tahun sekali di rumah mereka ini. Hari yang sedikit basah karena hujan itu pun diwarnai dengan pemandangan orang-orang berjalan kaki maupun berkendaraan dalam aneka warna di seluruh sudut kota Poznan. Warna-warna yang dominan dikenakan oleh para 'jemaat bola' adalah biru, yaitu warna seragam timnas Italia dan merah-putih, yang menjadi warna khas Kroasia.

Sesampainya kami di depan Stadion Miejski, suasana sudah seperti medan perang. Gerombolan polisi memasang barikade dan menutup jalan untuk berjaga-jaga apabila terjadi kerusuhan. Mobil polisi diparkir di berbagai sudut jalan dan beberapa polisi tampak siaga di atas beberapa ekor kuda. Di langit di atas sana, sebuah helikopter terbang mondar-mandir untuk mengawasi keadaan di sekitar stadion. Meskipun pengamanannya ketat, syukurlah sampai akhir pertandingan tidak terjadi kerusuhan berarti.

Saya dan Sendy pun memasang perhatian kali-kali aja ada calo yang menawarkan tiketnya pada kami. Ternyata benar. Belasan calo langsung menyerbu kami menawarkan tiket. Kami pun siap-siap untuk menawar harga yang diberikan, namun alangkah kagetnya kami ketika mereka berkata bahwa tiket yang ditawarkan 'hanya' 100 Euro. Padahal, tiket tersebut merupakan kategori 2, yang harga aslinya di website UEFA sebesar 120 Euro! Mungkin para calo sudah terdesak untuk menjual tiket mereka karena kick-off pertandingan sebentar lagi dimulai.


Saya dan Sendy pun membeli tiket yang meskipun sedikit mahal, namun sangat menguntungkan secara finansial itu. Setelah sedikit dibuat was-was karena takut kami ditipu dengan tiket palsu, semuanya berjalan lancar setelah kami akhirnya berhasil masuk ke stadion dan melewati security check. Pertandingan Italia melawan Kroasia yang berakhir imbang 1-1 itu pun kami nikmati dengan tenang.

Setelah pertandingan selesai, kami tidak ingin melewatkan kesempatan untuk berfoto dengan fans-fans Kroasia dan Italia di depan stadion. Sendy sendiri merupakan aktivis Viking, alias klub pendukung Persib Bandung. Dia tidak lupa membawa atribut persib berupa syal dan bendera yang kami bentangkan untuk menunjukkan eksistensi kami, para pecinta sepak bola Indonesia di luar negeri. Oh ya, ditambah lagi, saya, Rusmin dan Sendy, semuanya kompak datang ke stadion mengenakan kaos merah kebesaran tim nasional Indonesia! Suatu bukti bahwa kecintaan kami terhadap sepak bola tidak mengenal batas! Sekaligus cerminan harapan yang tidak pernah mati, agar sepak bola Indonesia bisa berprestasi suatu hari nanti. 


MP

Kamis, 21 Juni 2012

Euro 2012 Trip: Poznan (1)

Poznan, 14 Juni 2012.

Kereta api Warsawa Express yang membawa saya dari Berlin Hauptbahnhof berhenti di Poznan Glowny. This is it! Saya sudah sampai di Poznan. Kereta akan melanjutkan perjalanan ke Warsawa, tapi pemberhentian saya adalah kota di barat Polandia yang bernama unik ini. 


Rintik demi rintik gerimis menyambut saya di Poznan Glowny, atau Poznan Main Station. Suasana stasiun lama yang kumuh memenuhi pandangan saya. Di sana-sini, terlihat banyak orang berkeliaran memakai pakaian serba hijau. Mereka adalah para volunteer yang bekerja untuk membantu para wisatawan yang bertujuan untuk menonton pertandingan sepak bola Euro 2012.

Setelah menunggu setengah jam, Rusmin akhirnya datang menjemput saya, bersama seorang pria berwajah Indonesia seumuran kami. Kami berkenalan, nama pria muda itu Sendy. Dia asli Bandung. Viking abis, alias pendukung setia Persib Bandung. Sendy telah tinggal di Poznan selama tiga tahun. Dia bekerja sebagai koki di Warung Bali, restoran bergaya Indonesia yang terletak di Old Town Poznan.


Kami pun berjalan kaki menuju apartemen Sendy, kenalan baru yang bersedia menampung kami selama stay di Poznan. Hujan berhenti dan matahari mulai bersinar terang. Di sepanjang perjalanan, saya mengamati bangunan demi bangunan yang menjadi saksi sejarah serta masa pembangunan kota ini. Bangunan tua tetap menghiasi, namun mereka seolah berjuang memperlihatkan eksistensi mereka di tengah-tengah gencar-gencarnya pembangunan gedung baru.

Bisa dimengerti, terpilihnya Poznan sebagai salah satu tuan rumah pertandingan Euro 2012 pastinya akan mengundang ribuan, mungkin jutaan wisatawan asing yang berkunjung ke kota tersebut. Selain itu,sepak bola di kota ini memang sedang menggeliat. Poznan adalah markas juara liga sepak bola Polandia 2012, yaitu Lech Poznan, tim sepak bola yang disponsori oleh produsen bir khas Polandia. Makanya, terlihat jelas betapa Poznan ingin sebaik mungkin terlihat sebagai kota yang ramah dan berkembang dengan pembangunan gedung-gedung baru di sana-sini serta keberadaan kafe-kafe pinggir jalan yang terlihat dadakan.


Begitu keluar dari pintu stasiun utama yang tadinya terlihat kuno dan kumuh, sesuatu menarik perhatian saya. Di seberang stasiun, terdapat sebuah bangunan yang belum setengahnya selesai dibangun. Ketika bertanya kepada Sendy, dia menjelaskan bahwa itu adalah pembangunan stasiun utama kota Poznan yang belum. tadinya pembangunan stadion baru tersebut diproyeksikan akan selesai sebelum pelaksanaan Euro 2012. Apa daya, akibat satu dan lain hal, sampai Juni 2012 para wisatawan hanya bisa melihat kerangka dan bahan-bahan bangunan yang masih berantakan.

Saya tersenyum sendiri. Jadi teringat tahun lalu ketika Palembang mengalami hal yang sama demi mengejar deadline pelaksanaan SEA Games. Ada sedikit rasa lega karena ternyata 'penyakit' seperti ini bukan hanya menjadi kebiasaan buruk Indonesia.

(bersambung...)

Euro 2012 Trip: Berlin (1)

Pada 13 Juni 2012, pesawat Easyjet membawa saya dari Jenewa ke Berlin. Ini adalah kali kedua say menginjakkan kaki di Berlin. Saya menghabiskan satu hari di sana, hanya untuk transit sebelum menumpang kereta ke Poznan keesokan harinya. Sekalian, saya ingin merasakan suasana menonton sepak bola di pusat keramaian kota Berlin, yaitu Brandenburger Tor.

Brandenburger Tor adalah memorial berbentuk gerbang yang menjadi ikon kota Berlin. Lokasi yang berseberangan dengan gedung parlemen Jerman itu disulap menjadi fan zone Euro 2012, yaitu pusat keramaian masyarakat untuk menonton pertandingan sepak bola antara Jerman melawan Belanda yang diadakan pada 13 Juni malam tersebut.


Begitu tiba di lokasi, saya terkejut dan takjub. Mungkin ada lebih dari dua ratus ribu orang yang memadati jalan-jalan Berlin untuk berkumpul di lokasi fan zone Berlin. Panitia fan zone sendiri menyediakan beberapa layar raksasa di jalan-jalan utama sepanjang lokasi tersebut. Petugas polisi berjaga di mana-mana, dan pemeriksaan harus dilakukan sebelum memasuki wilayah fan zone

Selama pertandingan berlangsung, suasana benar-benar hidup, serasa Berlin sedang mengadakan karnaval dengan tema sepak bola. Keramaian massa tersebut tidak lupa menyanyikan chant atau lagu perjuangan tim sepak bola Jerman. Sorak-sorai 'auf geht's, schiess ein tor' atau yang artinya 'maju terus, cetak gol!' bergema di mana-mana. Pria-wanita, tua-muda, semuanya berkumpul untuk mendukung para pahlawan sepak bola mereka menghadai Belanda. Satu demi satu nama pemain Jerman diteriakkan oleh para suporter yang terbawa situasi sepanjang pertandingan berlangsung.


Pertandingan petang hari itu akhirnya dimenangkan oleh Jerman dengan skor 2-1. Suasana pun menjadi meriah. Sekitar wilayah fan zone berubah menjadi parade kemenangan warga Jerman di Berlin. Ratusan ribu orang menari-nari gembira di jalanan, sambil terus-terusan meneriakkan yel-yel dan nama-nama para pahlawan sepak bola mereka. Mobil-mobil yang lalu lalang membunyikan klakson seraya mengibar-ngibarkan bendera Jerman. Atmosfer yang luar biasa!

Saya pun jadi berpikir, jika kemeriahan seperti ini sudah terasa di Berlin, yang jaraknya masih kurang lebih 200 kilometer dari Polandia, maka bagaimana dengan suasan di Polandia sendiri, ya?

(bersambung...)

Euro 2012 Trip

Long time no post

Beberapa bulan terakhir saya disibukkan dengan beberapa project menulis lain, jadi rada jarang nge-update blog ini, hehehe. Makalah dan finishing novel baru saya yang alhamdulillah udah rampung menyita perhatian saya. Meski demikian, saya sempat traveling ke beberapa tempat di Eropa. Namun, berhubung ada event yang saat ini masih happening, saya skip beberapa perjalanan yang telah lampau dan langsung loncat ke Juni 2012 dulu ya.

Juni 2012 adalah perayaan sepak bola di Eropa. Bulan ini adalah penyelenggaraan Euro 2012 atau Piala Eropa 2012. Saya dan teman saya, Rusmin, (http://www.mrusmin.wordpress.com), sudah berencana dari jauh-jauh hari untuk mengunjungi Polandia atau Ukraina, dua negara tempat dilaksanakannya pesta bola tersebut.

Berhubung saya tinggal di Swiss dan Rusmin tinggal di Italia, kami berdua janjian untuk ketemu langsung di salah satu kota pelaksana. Rusmin dan saya sama-sama pecinta sepak bola kelas hardcore, yang menganggap football is something that is bigger than life. Oh ya, sebelumnya kami berdua sama-sama traveling keliling Spanyol juga untuk tujuan menikmati sepak bola. Namun, postingan itu nanti saja menyusul belakangan, ya.

Awalnya, kami berencana untuk menonton pertandingan antara Inggris melawan Prancis di kota Donetsk, Ukraina. Sayangnya, kami baru mengetahui bahwa untuk memasuki wilayah Ukraina, kami sebagai warga non-Uni Eropa harus apply visa lagi. Selain itu, lokasi kota Donetsk yang terletak jauh di timur Ukraina, dekat perbatasan Rusia, termasuk sangat sulit untuk dijangkau. 

Akhirnya kami pun mengatur ulang rencana. Salah satu pertandingan yang menjadi target kami adalah Italia melawan Kroasia yang diadakan di kota Poznan, Polandia. Untuk masuk Polandia, kami bebas dan tidak butuh visa karena Polandia termasuk wilayah Schengen, yaitu wilayah di Eropa yang bisa dijangkau tanpa visa khusus.

Jika ada yang bertanya, 'kenapa Poznan? Ada apa sih di kota itu?' Yah, saya akan bertanya balik, 'why not?' Toh, justru ketidakpastian tentang apa yang akan ditemui di jalan itulah yang menjadi daya tarik utama suatu perjalanan, bukan?

(bersambung...)

Rabu, 21 Desember 2011

Next Destination?

Seorang teman pernah nagih postingan saya tentang Barcelona. Yap, sekitar satu setengah bulan yang lalu, saya memang mengunjungi kota yang sejak kecil saya impikan itu.

Bukannya tidak mau mem-posting tentang perjalanan di kota tersebut. Kenyataannya, saya sudah duduk di depan komputer untuk menuliskan pengalaman saya selama kurang lebih tiga hari disana. Namun ternyata.. tulisan tersebut cukup sulit untuk dibuat. Entah ya.. apa sebabnya.. tapi kesimpulan saya, memang butuh waktu lebih untuk mengungkapkan keindahan suatu kota dan digabungkan dengan pengalaman kita selama traveling di sana.

Ini berbeda dengan jika saya menuliskan tempat-tempat yang saya kunjungi di Swiss. Hasil traveling saya di Barcelona sepertinya sangat sayang jika hanya dituangkan ke dalam suatu postingan 'biasa-biasa' saja.

Maka, saya bertekad untuk menyimpan dulu postingan tersebut. Selain karena saya sedang terbelit belenggu ujian selama seminggu ini, saya ingin sekaligus menuangkan pengalaman saya di Barcelona dengan... berbagai pengalaman menakjubkan lain di beberapa sudut dunia lainnya.

Ya, untuk akhir Desember 2011 sampai Januari 2012, agenda saya sudah berisikan beberapa lokasi yang akan saya kunjungi. Dari Paris sampai Berlin, dengan beberapa 'belokan' ke Praha, Stockholm, dan kemungkinan.. Budapest, awal tahun 2012 saya akan penuh dengan traveling!

Maka, mungkin saya akan menuliskan pengalaman di Barcelona yang lalu dalam mood dan waktu yang sama dengan penulisan saya akan pengamanan di perjalanan Desember-Januari tersebut. Jadi, ditunggu saja ya.. Yang jelas, tulisan di blog akan menjadi buah tangan paling minimal yang akan saya bawa sebagai hasil perjalanan.

Artinya: besar kemungkinan saya akan mengambil beberapa inspirasi dari petualangan saya tersebut ke dalam sebuah novel baru!

I'm really excited to do the adventure. It's not only about the travel.. It's also about cruising life !

MP

Solothurn: Garuda Overseas

Postingan ini telat sebulan, tapi tetap saja, terlalu menarik untuk dilewatkan.

Pada final SEA Games yang berlangsung pada tanggal 21 November 2011, final cabang olahraga yang paling bergengsi, yaitu sepakbola, mempertemukan Indonesia dan Malaysia. Tidak mau kalah dengan jutaan warga Indonesia yang mendukung tim kesayangan kita, saya dan beberapa teman yang sedang berdomisili di luar negeri membuat suatu gerakan di Twitter yang pada akhirnya dikenal dengan #GarudaOverseas

Gerakan tersebut diprakarsai oleh teman saya, Rusmin, yang sekarang berada di Trieste, Italia. Aturannya, kami harus mem-posting foto kami dengan bendera atau atribut timnas Indonesia di depan sebuah landmark ternama di kota manapun di luar negeri.

Nah, saya sendiri, tepat pada hari itu, sedang berada di kota Solothurn. Di kota kecil yang letaknya bisa dicapai sekitar setengah jam naik kereta ini, saya bersama dua teman saya yang lain asal Indonesia berkeliling mencari spot yang bagus untuk berfoto. Hasilnya bisa dilihat di foto-foto di bawah ini.

Di depan Katedral Solothurn

Oh ya, ada suatu hal yang unik. Di saat kami sedang mencari lokasi untuk berfoto, tiba-tiba kami melihat jejeran bendera merah-putih terpasang di sepanjang jembatan yang melintasi Solothurn River. Langsung saja, kami meminta bantuan kepada warga setempat untuk mengambil foto kami di lokasi unik tersebut. Hasilnya, bisa terlihat seolah-olah warga Solothurn ikut mendukung perjuangan tim sepakbola Indonesia dengan memasang bendera merah-putih di sepanjang kota mereka.

Seisi kota Solothurn mendukung Indonesia!

Padahal, merah-putih adalah bendera kanton Solothurn yang kebetulan juga berwarna merah dan putih. What a sweet coincidence! :D

MP

Kamis, 24 November 2011

Basel

Selama dua bulan lebih tinggal di Swiss, hampir semua kota besar sudah saya kunjungi. Kecuali satu kota besar: Basel. Sejauh ini memang belum ada urusan yang mengharuskan saya ke sana. Sampai pada akhirnya, weekend lalu, saya diundang untuk menghadiri suatu acara ulang tahun yang juga merupakan ajang silaturahmi masyarakat Indonesia se-Swiss.

belum sempat ngambil foto, maka foto ini saya ambil di http://www.mascotte.ch/1962/

Basel, yang sekarang terkenal dengan tim sepakbolanya yang sukses mempermalukan Manchester United di turnamen Liga Champions, merupakan kota yang terbilang metropolitan. Selain Zurich, kota ini adalah salah satu kota terluas dan terpadat. Mungkin karena mengingat statusnya sebagai kota industri.

Sayangnya, karena cuma sehari, belum banyak yang bisa saya ceritakan dari kota ini. Semoga suatu hari saya bisa kembali ke kota ini untuk membawalebih banyak cerita. Namun, yang pasti, setelah mengunjungi Basel, seolah saya telah menemukan missing link yang membuat saya sudah menjelajahi seluruh kota penting di Swiss! :)

MP

Zurich

Setelah lebih sebulan tidak meng-update blog ini, tanpa terasa musim dingin sudah berada di depan pintu. Angin dingin yang menusuk tulang mulai merasuk lewat sela-sela jendela. Saya teringat untuk segera menyalakan penghangat ruangan. Namun, dinginnya udara luar tidak menghalangi saya untuk berkunjung ke kota terbesar dan terpadat di Swiss, yaitu Zurich.

Ya, seperti sudah sering kita bahas, Zurich selalu membuat orang-orang kecele. Banyak yang mengira bahwa inilah ibukota Swiss, padahal bukan. Meski demikian, kota ini merupakan kota dengan populasi terbanyak, sekitar 380-ribu jiwa (ini pun tidak ada apa-apanya dibanding populasi Jakarta, hahaha).

Saat pertama sampai di stasiun kereta Zurich pun, suasana kota metropolitan sudah terasa. Pelataran yang luas dan hiruk-pikuknya orang yang berlalu-lalang menegaskan semua itu. Begitu saya melangkahkan kaki ke luar, saya disambut dengan padatnya lalu-lintas, tidak peduli dengan udara di penghujung musim gugur yang sudah nyaris beku.

Saya memang cuma menghabiskan satu sore menjelang malam di kota itu. Kesan yang saya dapatkan pun sangat berbeda dengan Bern. Kota Zurich seakan menegaskan diri sebagai pemimpin di daerah Swiss yang berbahasa Jerman: selalu terlihat sibuk dengan jutaan hal berbeda terjadi setiap hari. Roda perekonomian yang terus berputar karena banyaknya pusat perbelanjaan, disokong dengan sistem perbankan paling aman di dunia. Otomatis, Zurich menawarkan sejuta kesempatan kerja. Ya, saya melihat banyak sekali wajah Asia maupun India selama berjalan-jalan di kota ini. Hal tersebut menandakan bahwa Zurich membuka kesempatan bagi siapa saja untuk bersaing mencari pekerjaan di sana.

Namun, yang saya salut, di tengah segala kesibukan dan hiruk-pikuknya, Zurich tidak lupa menyimpan pesonanya. Hal tersebut bisa dilihat dari foto pemandangan Danau Zurich yang sekaligus menjadi penutup postingan saya ini:


Senin, 17 Oktober 2011

The Famous Matterhorn

Pada suatu hari, saya dibuat tertarik oleh sebuah ajakan teman saya, Iwa, yang sudah dua tahun tinggal di Swiss dan cukup aktif juga menulis blog seputar pengalamannya hidup di Swiss. (blognya bisa dicek di http://sobara.wordpress.com/). Ajakan yang lucu ini tidak akan pernah saya lupakan.

'Mau ikut naik ke gunung yang ada di kemasan cokelat Toblerone, nggak?'

Tanpa pikir panjang lagi, sebagai seseorang yang lumayan gila petualangan, saya ikut dengannya ke kota Zermatt yang ditempuh sekitar dua jam perjalanan dari kota Bern. Lalu, dari Zermatt, kami naik ke 'Gunung Toblerone' dengan menumpang sebuah cable car.

Tunggu dulu! Sepertinya ada yang salah. Nama gunungnya apa ya? Masak terus-terusan kita sebut 'Gunung Toblerone'?

Ya, sampai sekarang, jika mengingat bentuk gunung tersebut yang memang cukup unik, di otak saya akan terlintas kata 'Toblerone'. Special thanks untuk teman saya itu, yang membuat penyebutan gunung ini jauh lebih mudah secara mengasosiasikannya dengan cokelat Toblerone. Rasanya, sampai kapanpun juga, saya akan mengingat gunung ini sebagai 'Gunung Toblerone'. :p

Gunung ini sendiri bernama Matterhorn. Gunung tersebut selalu ditutupi es dan salju karena ketinggiannya yang mencapai 4.478 meter. Ketinggian tersebut membuatnya menjadi gunung tetinggi di Kawasan Alpen dan salah satu yang tertinggi di Eropa.

Anyways, kenyataan itu sempat membuat saya bangga, karena dengan berkunjung ke Matterhorn, berarti saya sudah mengunjungi tiga dari beberapa puncak tertinggi di Swiss (dan juga Eropa). Dua lainnya adalah puncak Stockhorn (ketinggian 2.190 meter, lihat postingan Saturday Hiking ) dan Monte San Salvatore (sekitar 1.000 meter, lihat postingan Lugano ). Meskipun tidak semuanya dilalui dengan cara mendaki karena terbantu dengan fasilitas cable car, tapi menikmati pemandangan indah dari ketinggian selalu menghasilkan kesenangan tersendiri, bukan? :)

MP